Mengenang Prince: Sisi Tersembunyi di Balik Kehidupan dan Etos Kerja Sang Legenda Musik Dunia

Siti Rahma | InfoNanti
21 Apr 2026, 06:55 WIB
Mengenang Prince: Sisi Tersembunyi di Balik Kehidupan dan Etos Kerja Sang Legenda Musik Dunia

InfoNanti — Tepat pada 21 April 2016, panggung hiburan internasional kehilangan salah satu permata paling bersinar. Prince Rogers Nelson, musisi jenius yang lebih dikenal dengan nama panggung Prince, mengembuskan napas terakhirnya di usia 57 tahun. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan lubang besar dalam sejarah musik dunia, menyisakan duka bagi jutaan penggemar yang memuja kreativitasnya tanpa batas.

Sang maestro ditemukan tidak sadarkan diri di dalam lift kediaman pribadinya yang ikonik, Paisley Park, di Chanhassen. Belakangan, fakta medis mengungkap bahwa penyebab kematiannya adalah overdosis fentanyl yang tidak disengaja. Namun, melampaui tragedi tersebut, warisan seni dan etos kerja Prince tetap menjadi bahan pembicaraan yang menarik untuk dikupas hingga hari ini.

Baca Juga

Tragedi Berdarah di Jerman: Seorang WNI Tewas Mengenaskan, Keluarga Ragukan Motif Pertengkaran

Tragedi Berdarah di Jerman: Seorang WNI Tewas Mengenaskan, Keluarga Ragukan Motif Pertengkaran

Ramalan Tentang Usia dan Dedikasi Ekstrem

Hampir satu dekade berlalu sejak kepergiannya, LeRoy Bennett, sahabat sekaligus penata cahaya panggung yang telah lama bekerja bersamanya, mulai mengungkap sisi lain dari sang legenda. Dalam sebuah penuturan emosional, Bennett menceritakan bahwa Prince memiliki firasat unik mengenai umurnya. Menariknya, sang musisi pernah beranggapan bahwa hidupnya tidak akan berlanjut melewati usia 35 tahun.

Pandangan fatalistik ini kemungkinan besar memicu etos kerja yang sangat ekstrem. Prince dikenal memiliki stamina yang seolah tidak ada habisnya. Jadwalnya dipenuhi dengan sesi latihan berjam-jam, konser yang menguras energi, hingga evaluasi mendalam melalui rekaman video setiap kali pertunjukan usai. Bagi Prince, kesempurnaan bukanlah pilihan, melainkan sebuah kewajiban.

Baca Juga

Misteri Wabah Hantavirus di Kapal Hundius: WHO Ungkap Potensi Penularan di Tengah Samudra

Misteri Wabah Hantavirus di Kapal Hundius: WHO Ungkap Potensi Penularan di Tengah Samudra

Tekanan Mental di Balik Pertunjukan Megah

Bekerja untuk seorang perfeksionis seperti Prince bukanlah perkara mudah. Bennett mengenang masa-masa awal kerja sama mereka yang penuh tekanan. Menjelang tur Lovesexy, ia mengaku sempat mengalami kelelahan mental yang luar biasa hingga tidak tidur selama tiga hari berturut-turut. Prince terus menguji batas kemampuannya sampai Bennett mencapai titik nadir dan menangis di sebuah kamar hotel.

Namun, ujian berat tersebut justru menjadi fondasi hubungan yang solid di antara keduanya. Mereka menemukan kesamaan visi artistik yang kuat. “Kami memiliki cara berpikir visual yang serupa dan selalu ingin mendobrak batasan tentang apa yang bisa disajikan dalam sebuah pertunjukan,” kenang Bennett. Kolaborasi mereka kemudian melahirkan konsep konser musik revolusioner yang menggunakan properti tidak biasa, mulai dari tiang pemadam kebakaran hingga tempat tidur di atas panggung—sebuah inovasi yang konon memengaruhi gaya panggung artis besar lainnya seperti Madonna.

Baca Juga

Tragedi 13 Mei 1969: Menggali Luka Kelam dan Transformasi Politik Malaysia Pasca-Kerusuhan Rasial

Tragedi 13 Mei 1969: Menggali Luka Kelam dan Transformasi Politik Malaysia Pasca-Kerusuhan Rasial

Jiwa Kompetitif dan Kehangatan Personal

Selain dedikasinya pada seni, Prince juga dikenal sebagai sosok yang sangat kompetitif. Ia tak jarang melontarkan candaan tajam yang menyindir rekan sesama musisi, termasuk band legendaris Queen. Namun, di balik karakter panggungnya yang keras dan misterius, Prince adalah pribadi yang hangat bagi orang-orang terdekatnya.

Bennett sering kali memasak untuk sang musisi dan menghabiskan waktu bersama sembari berkeliling mendengarkan demo lagu-lagu baru yang belum dirilis. Salah satu momen paling berkesan bagi Bennett adalah saat pelantikan Prince ke dalam Rock and Roll Hall of Fame. Di sana, mereka berbincang dari hati ke hati selama satu setengah jam, merenungkan perjalanan karier yang telah mereka lalui bersama.

Baca Juga

Indonesia dan 7 Negara Muslim Bersatu, Kecam Keras Pelanggaran Berulang Israel di Kompleks Masjid Al-Aqsa

Indonesia dan 7 Negara Muslim Bersatu, Kecam Keras Pelanggaran Berulang Israel di Kompleks Masjid Al-Aqsa

Bagi Bennett, Prince bukan sekadar klien atau atasan. Ia adalah sosok yang menganggap orang-orang di sekitarnya sebagai perpanjangan dari visi artistiknya sendiri. Meskipun raganya telah tiada, spirit dan inovasi yang ditinggalkan Prince akan terus menggema di setiap sudut industri hiburan global, membuktikan bahwa seorang legenda sejati tidak akan pernah benar-benar mati.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *