Selat Hormuz Dibuka Kembali, Dunia Bereaksi di Tengah Sinyal Kontradiktif Iran dan AS

Siti Rahma | InfoNanti
18 Apr 2026, 12:52 WIB
Selat Hormuz Dibuka Kembali, Dunia Bereaksi di Tengah Sinyal Kontradiktif Iran dan AS

InfoNanti — Dinamika di kawasan Timur Tengah kini memasuki babak baru yang krusial seiring dengan mencuatnya kabar mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Sebagai urat nadi utama perdagangan energi dunia, status jalur pelayaran ini langsung memicu gelombang respons dari berbagai pemimpin negara, yang meski menyambut positif, tetap menyelipkan nada kewaspadaan tinggi dalam pernyataan mereka.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara resmi menyatakan bahwa jalur maritim strategis tersebut kini telah “sepenuhnya terbuka” bagi lalu lintas kapal komersial. Momentum ini bertepatan dengan masa gencatan senjata yang tengah berlangsung antara Israel dan Lebanon, yang diharapkan mampu meredam konflik timur tengah yang sempat memanas beberapa waktu terakhir.

Baca Juga

Tragedi 13 Mei 1969: Menggali Luka Kelam dan Transformasi Politik Malaysia Pasca-Kerusuhan Rasial

Tragedi 13 Mei 1969: Menggali Luka Kelam dan Transformasi Politik Malaysia Pasca-Kerusuhan Rasial

Antara Klaim Trump dan Realita di Lapangan

Namun, suasana optimisme ini sedikit terusik oleh pernyataan kontras dari Gedung Putih. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan narasi yang berbeda terkait situasi di lapangan. Meskipun ia mengonfirmasi bahwa Selat Hormuz memang terbuka bagi aktivitas pelayaran global, Trump menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap tidak akan bergeming.

“Blokade tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan yang menyeluruh dengan Teheran,” tegas Trump. Ia bahkan melontarkan klaim sepihak bahwa Iran telah berjanji untuk tidak akan pernah menutup selat tersebut lagi di masa depan. Hingga berita ini diturunkan, pihak Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim komitmen permanen yang disebutkan oleh Trump tersebut.

Baca Juga

Menantang Maut Demi Drama: Lonjakan Eksekusi Mati di Korea Utara Akibat Penyelundupan Konten Asing

Menantang Maut Demi Drama: Lonjakan Eksekusi Mati di Korea Utara Akibat Penyelundupan Konten Asing

Kondisi di internal Iran sendiri terpantau masih cukup kompleks. Laporan dari media lokal mengindikasikan adanya perbedaan pandangan di lingkaran otoritas mereka. Seorang pejabat militer senior sempat mengisyaratkan bahwa akses melintas sebenarnya masih terbatas, di mana hanya kapal non-militer yang diizinkan lewat, itu pun harus melalui prosedur persetujuan ketat dari angkatan laut IRGC. Hal ini menunjukkan bahwa keterbukaan yang dimaksud mungkin belum sepenuhnya mutlak bagi seluruh jenis armada.

Respons Kolektif Pemimpin Dunia di Paris

Menyikapi situasi yang masih cair ini, para pemimpin dari sekitar 30 hingga 40 negara berkumpul di Paris guna merumuskan langkah strategis dalam menjaga kebebasan navigasi internasional. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyambut baik kabar pembukaan selat ini, namun ia mengingatkan bahwa jaminan keberlanjutan adalah harga mati.

Baca Juga

Misi Penyelamatan WNI di Iran: 45 Orang Kembali ke Tanah Air, 236 Lainnya Masih Dalam Pemantauan

Misi Penyelamatan WNI di Iran: 45 Orang Kembali ke Tanah Air, 236 Lainnya Masih Dalam Pemantauan

“Langkah ini harus menjadi solusi yang langgeng, bukan sekadar kebijakan sementara,” ujar Starmer. Ia juga menambahkan bahwa Inggris bersama Prancis siap menginisiasi misi internasional yang bersifat defensif demi mengawal keamanan di jalur pelayaran tersebut agar tetap stabil dan jauh dari keamanan maritim yang terancam.

Nada serupa datang dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Dengan tegas, Macron menolak segala bentuk pembatasan yang bisa dianggap sebagai upaya “privatisasi” selat oleh pihak-pihak tertentu. Menurutnya, kebebasan navigasi internasional adalah prinsip hukum laut yang tidak bisa ditawar-tawar. Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan kesiapan negaranya untuk menyumbangkan keahlian intelijen dan teknologi pembersihan ranjau, asalkan memiliki landasan hukum internasional yang kuat.

Baca Juga

Menguak Sosok Cole Tomas Allen: Jejak Akademisi Gemilang di Balik Insiden Penembakan Donald Trump

Menguak Sosok Cole Tomas Allen: Jejak Akademisi Gemilang di Balik Insiden Penembakan Donald Trump

Urat Nadi Ekonomi yang Tak Tergantikan

Penting untuk diingat bahwa Selat Hormuz bukan sekadar jalur air biasa; wilayah ini menampung sekitar 20 persen dari total volume perdagangan minyak mentah dunia. Ketidakpastian sekecil apa pun di lokasi ini akan langsung berdampak pada harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi global secara menyeluruh.

Meskipun dunia saat ini menaruh harapan besar pada normalisasi aktivitas di Selat Hormuz, perbedaan retorika antara Teheran dan Washington tetap menjadi faktor risiko yang harus diantisipasi. Para pengamat menilai bahwa arah kebijakan ke depan akan sangat bergantung pada hasil negosiasi diplomatik yang masih terus bergulir di balik layar. Untuk saat ini, publik hanya bisa berharap agar stabilitas ekonomi tidak lagi tersandera oleh ketegangan geopolitik yang berkepanjangan.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *