Siasat Cerdas Belanda Mendongkrak Keterwakilan Perempuan di Kursi Politik

Siti Rahma | InfoNanti
15 Apr 2026, 13:21 WIB
Siasat Cerdas Belanda Mendongkrak Keterwakilan Perempuan di Kursi Politik

InfoNanti — Senyum Fatuma Muhumed merekah saat melangkahkan kaki menuju gedung balai kota Apeldoorn, Belanda. Hari itu bukan hari biasa bagi sang pengacara; ia tengah bersiap untuk dilantik sebagai anggota dewan kota, sebuah pencapaian yang menandai langkah perdananya di panggung politik praktis. Kemenangan Fatuma bukanlah sesuatu yang sudah diprediksi sebelumnya. Berada di urutan ke-15 dalam daftar calon partai koalisi GroenLinks-PvdA, secara matematis peluangnya tergolong tipis. Namun, realita berkata lain, ia berhasil melesat dan mengamankan satu dari enam kursi yang diraih partainya.

Keberhasilan Fatuma merupakan buah dari sistem pemilihan preferensial yang dioptimalkan melalui gerakan strategis bernama “Stem op een Vrouw” atau Pilih Seorang Perempuan. Gerakan ini mengedukasi pemilih untuk melakukan pemilihan cerdas guna mendobrak dominasi gender di kursi pemerintahan.

Baca Juga

Menguak Sosok Cole Tomas Allen: Jejak Akademisi Gemilang di Balik Insiden Penembakan Donald Trump

Menguak Sosok Cole Tomas Allen: Jejak Akademisi Gemilang di Balik Insiden Penembakan Donald Trump

Mengakali Sistem demi Kesetaraan

Di Negeri Kincir Angin, pemilih tidak sekadar mencoblos lambang partai, melainkan bisa memilih kandidat spesifik dalam daftar yang diajukan. Biasanya, partai menyusun urutan calon dengan tokoh-tokoh utama di posisi teratas, yang seringkali didominasi oleh laki-laki. Zahra Runderkamp, peneliti dari Stem op een Vrouw, menjelaskan bahwa pemilih cenderung memilih nama yang berada di barisan atas secara otomatis.

Strategi yang diusung gerakan ini adalah mendorong masyarakat untuk memberikan suara kepada kandidat perempuan yang berada di posisi “rawan”—yakni mereka yang berada sedikit di bawah ambang batas perkiraan perolehan kursi. Dengan mengumpulkan suara personal yang cukup besar, kandidat perempuan di posisi bawah bisa menyalip rekan pria mereka di urutan atas. Taktik ini terbukti ampuh; Fatuma adalah satu dari 503 perempuan yang berhasil menembus barisan dewan di seluruh Belanda melalui jalur ini.

Baca Juga

Kisah Irving, Singa Laut Muda yang “Salah Jalan” Hingga Masuk ke Jantung Kota San Francisco

Kisah Irving, Singa Laut Muda yang “Salah Jalan” Hingga Masuk ke Jantung Kota San Francisco

Kontras Tajam Antara Pusat dan Daerah

Meski di tingkat nasional Belanda patut berbangga dengan keterwakilan perempuan di parlemen yang mencapai 43,3%—angka yang jauh melampaui rata-rata Uni Eropa—situasi di tingkat lokal masih menyimpan tantangan besar. Pada pemilihan tingkat kota terakhir, persentase perempuan terpilih hanya menyentuh angka 36,9%. Tanpa adanya kampanye strategis untuk hak politik perempuan, angka tersebut diprediksi bakal merosot jauh ke level 32,7%.

Ketimpangan ini juga terlihat jelas dalam peta ideologi partai. Partai untuk Hewan (Partij voor de Dieren) yang berhaluan kiri menjadi satu-satunya yang mencalonkan mayoritas perempuan. Di sisi lain, Partai Politik Reformasi (SGP) yang konservatif hanya memiliki 2% kandidat perempuan. SGP bahkan memiliki sejarah panjang menolak kandidat perempuan berdasarkan interpretasi teologis, sebelum akhirnya dipaksa berubah oleh putusan pengadilan pada tahun 2013 karena dianggap melakukan diskriminasi.

Baca Juga

Ketika Robot ‘Membajak’ Jadwal Terbang: Kisah Penumpang Besi 31 Kg yang Menghebohkan Southwest Airlines

Ketika Robot ‘Membajak’ Jadwal Terbang: Kisah Penumpang Besi 31 Kg yang Menghebohkan Southwest Airlines

Tantangan Budaya dan Ancaman Kekerasan

Mengapa perempuan sulit bertahan di dunia politik? Selain hambatan struktural, ada faktor psikologis dan sosial yang membayangi. Banyak gadis muda memandang politik sebagai “dunia pria,” sebuah persepsi yang seringkali memadamkan minat mereka sejak dini. Kurangnya figur teladan perempuan di posisi strategis menciptakan siklus keterasingan yang terus berulang.

Tak hanya itu, beban ganda juga menjadi ganjalan. Anggota dewan lokal di Belanda biasanya bekerja di malam hari atau akhir pekan di luar pekerjaan utama mereka. Di tengah budaya yang masih menitikberatkan urusan domestik pada perempuan, jadwal ini seringkali tidak kompatibel dengan realitas kehidupan mereka. Masalah keamanan pun menjadi sorotan; data menunjukkan bahwa 55% politisi perempuan menghadapi agresi dan serangan verbal, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan rekan pria mereka yang berada di angka 37%.

Baca Juga

Komitmen Perdamaian di Balik Industri Pertahanan: Jepang Perketat Pengawasan Ekspor Senjata Demi Cegah Agresi Global

Komitmen Perdamaian di Balik Industri Pertahanan: Jepang Perketat Pengawasan Ekspor Senjata Demi Cegah Agresi Global

Fatuma Muhumed sendiri tidak luput dari serangan rasis dan seksis saat berkampanye melalui platform media sosial. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Melalui kepemimpinan perempuan yang inklusif, ia bertekad untuk menjembatani jurang antara masyarakat marginal dengan pengambil kebijakan.

Langkah Belanda melalui sistem pemilihan cerdas ini memberikan pelajaran berharga bahwa untuk mencapai kesetaraan gender yang hakiki, tidak cukup hanya dengan menunggu perubahan alami, melainkan diperlukan intervensi cerdas untuk membongkar tatanan yang sudah mapan.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *