Strategi Kemendag Urai Benang Kusut Ekspor Sarang Burung Walet ke China Akibat Isu Aluminium

Rizky Pratama | InfoNanti
14 Apr 2026, 17:52 WIB
Strategi Kemendag Urai Benang Kusut Ekspor Sarang Burung Walet ke China Akibat Isu Aluminium

InfoNanti — Industri sarang burung walet Indonesia, yang sering dijuluki sebagai ‘emas putih’ komoditas ekspor, kini tengah menghadapi ujian berat di pasar Tiongkok. Langkah tegas diambil oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk memulihkan arus logistik setelah otoritas kepabeanan China menghentikan sementara masuknya produk dari beberapa perusahaan Indonesia. Penangguhan ini dipicu oleh temuan kandungan aluminium yang dianggap melampaui ambang batas keamanan pangan yang ditetapkan oleh Negeri Tirai Bambu tersebut.

Sebagai langkah konkret, Kemendag menginisiasi gelaran China-Indonesia Bird’s Nest Trade Summit. Forum strategis ini mempertemukan sekitar 20 pelaku usaha nasional dengan para pembeli potensial dari China guna mencari titik temu atas regulasi teknis yang menjegal laju ekspor sarang burung walet kita. Fokus utama diskusi adalah menyikapi temuan General Administration of Customs China (GACC) terkait residu aluminium yang tercatat di atas 100 ppm (parts per million).

Baca Juga

Transformasi Energi Hijau: Alasan Kuat Mengapa Kereta Api Indonesia Kini Wajib Menenggak Biodiesel B50

Transformasi Energi Hijau: Alasan Kuat Mengapa Kereta Api Indonesia Kini Wajib Menenggak Biodiesel B50

Menelusuri Dampak Suspensi dan Diplomasi Perdagangan

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengungkapkan bahwa situasi ini berujung pada suspensi terhadap 18 perusahaan eksportir Indonesia. Menurutnya, pertemuan tingkat tinggi ini bukan sekadar ajang negosiasi bisnis, melainkan upaya memperkuat komitmen transparansi dalam menjaga akses pasar di Tiongkok.

“Pemerintah saat ini tengah menempuh jalur diplomasi perdagangan yang intensif untuk mempertanyakan parameter pengujian yang digunakan oleh GACC. Kami ingin memastikan adanya akuntabilitas agar standar yang diterapkan adil bagi pelaku usaha kita,” ujar Puntodewi dalam pernyataan resminya pada Selasa (14/4/2026).

Data menunjukkan betapa vitalnya pasar Tiongkok bagi industri ini, dengan penguasaan pangsa pasar mencapai 80,15 persen. Namun, sepanjang tahun 2025, nilai ekspor ke China mengalami koreksi sebesar 11,33 persen menjadi USD 380,20 juta. Meskipun demikian, dalam perspektif jangka panjang lima tahun terakhir, tren pertumbuhan komoditas ini sejatinya masih menunjukkan angka positif sebesar 2,66 persen.

Baca Juga

Menteri Maruarar Sirait: Rakyat Miskin Bebas Pajak Properti, Si Kaya Harus Berkontribusi Lebih

Menteri Maruarar Sirait: Rakyat Miskin Bebas Pajak Properti, Si Kaya Harus Berkontribusi Lebih

Langkah Perbaikan dan Optimisme Pasar Global

Di sisi lain, para eksportir menunjukkan itikad baik dengan melakukan audit internal secara menyeluruh. Perbaikan sistem produksi dan pengetatan kontrol kualitas menjadi prioritas utama agar standar keamanan pangan internasional dapat terpenuhi. Pemerintah berjanji akan terus mengawal proses verifikasi ini hingga ke-18 perusahaan tersebut mendapatkan kembali izin ekspornya ke Tiongkok.

Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid, melihat adanya celah yang bisa dimanfaatkan. Dengan adanya suspensi tersebut, terdapat potensi kekosongan pasokan sekitar 300 ton yang harus segera diisi. “Kami mendorong pelaku usaha lain yang sudah memenuhi kualifikasi untuk bergerak cepat mengambil peluang ini, agar dominasi pasar Indonesia di China tidak tergerus oleh kompetitor dari negara lain,” jelasnya.

Baca Juga

Lowongan Kerja BPJS Ketenagakerjaan April 2026: Kesempatan Emas Meniti Karir di Sektor Jaminan Sosial

Lowongan Kerja BPJS Ketenagakerjaan April 2026: Kesempatan Emas Meniti Karir di Sektor Jaminan Sosial

Perlu dicatat bahwa meski menghadapi kendala di China, komoditas unggulan Indonesia ini tetap merambah pasar internasional lainnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, beberapa negara tujuan ekspor lainnya meliputi:

  • Hong Kong (USD 36,26 juta)
  • Singapura (USD 19,75 juta)
  • Vietnam (USD 15,48 juta)
  • Amerika Serikat (USD 12,77 juta)

Secara keseluruhan, Indonesia masih memegang status sebagai pemasok sarang burung walet terbesar di dunia. Dengan total nilai ekspor mencapai USD 551,56 juta, Indonesia menguasai sekitar 58,31 persen pangsa pasar global pada tahun 2025. Melalui penguatan standarisasi dan diplomasi yang kuat, diharapkan fluktuasi ekspor yang terjadi di awal tahun 2026 ini dapat segera teratasi dan kembali pada tren pertumbuhan yang stabil.

Baca Juga

Lonjakan Signifikan! Harga Emas Pegadaian Hari Ini 13 Mei 2026: Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Melambung Tinggi

Lonjakan Signifikan! Harga Emas Pegadaian Hari Ini 13 Mei 2026: Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Melambung Tinggi
Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *