Menanti Puncak Badai Energi: Menteri Energi AS Prediksi Harga Minyak Bakal Terus Meroket Akibat Krisis Selat Hormuz
InfoNanti — Gejolak di pasar energi global tampaknya masih jauh dari kata usai. Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, memberikan sinyal waspada bahwa harga minyak mentah dunia berpotensi mencapai titik didih tertingginya dalam hitungan minggu ke depan. Hal ini dipicu oleh buntunya arus pengiriman di Selat Hormuz yang terus mencekik biaya energi global ke level yang mengkhawatirkan.
Dalam konferensi Semafor World Economy yang digelar di Washington, DC, Wright menegaskan bahwa normalisasi harga sangat bergantung pada kembalinya kelancaran lalu lintas kapal di jalur vital tersebut. Menurutnya, selama Selat Hormuz masih terhambat, tekanan pada harga energi akan terus meningkat secara signifikan.
Sinyal Puncak Harga dalam Beberapa Pekan
“Kita akan menyaksikan harga energi tetap tinggi, bahkan mungkin meroket lebih jauh, sampai kita melihat arus kapal yang signifikan kembali melintasi Selat Hormuz,” ungkap Wright di hadapan para peserta konferensi. Ia memprediksi bahwa puncak lonjakan harga ini kemungkinan besar akan terjadi dalam kurun waktu beberapa minggu mendatang.
Babak Baru Revisi UU Tapera: Skema Iuran Tak Lagi Wajib dan Menanti Ketok Palu DPR
Meskipun ada harapan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran akan mereda, Wright mengingatkan publik agar tidak berekspektasi terlalu tinggi terhadap penurunan harga yang instan. Proses pemulihan pasokan minyak dunia diprediksi memakan waktu yang tidak sebentar, bahkan setelah konflik mereda secara fisik.
Blokade Militer dan Lumpuhnya Urat Nadi Energi
Situasi memanas sejak pecahnya konflik antara poros AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu. Langkah Iran yang memblokade akses Selat Hormuz bagi mayoritas kapal asing telah memicu respons keras dari Washington. Kegagalan perundingan damai di Islamabad, Pakistan, baru-baru ini semakin memperkeruh suasana.
Menanggapi kebuntuan diplomasi tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) secara resmi memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Berikut adalah beberapa poin krusial terkait situasi di lapangan:
Transformasi Energi Hijau: PLN Gebrak Proyek PLTS 1.225 GW Lewat Skema GIGA ONE Menuju Target 100 GW Nasional
- Blokade berlaku secara imparsial bagi seluruh kapal yang masuk atau keluar dari wilayah Teluk Arab dan Teluk Oman yang menuju pelabuhan Iran.
- Presiden Donald Trump telah memberikan instruksi tegas kepada Angkatan Laut untuk mencegat setiap kapal yang dicurigai menyetor biaya lintas kepada pihak Iran.
- Lalu lintas kapal tanker raksasa anjlok drastis; tercatat hanya tiga kapal yang melintas dalam sehari, sangat jauh dari kondisi normal yang biasanya mencapai lebih dari 100 kapal.
Dampak Langsung pada Pasar Global
Pasar bereaksi cepat terhadap sentimen negatif ini. Harga minyak mentah berjangka AS untuk pengiriman Mei telah merangkak naik hingga menyentuh angka USD 99,08 per barel. Sementara itu, minyak Brent yang menjadi acuan global melesat melampaui USD 99,36 per barel, nyaris menembus ambang psikologis USD 100.
Fluktuasi Harga Emas Antam Sepekan: Dinamika ‘Roller Coaster’ yang Menguji Adrenalin Investor
Di sisi lain, Teheran tetap menunjukkan sikap keras. Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa kendali penuh atas Selat Hormuz tetap berada di tangan Republik Islam Iran. Klaim ini mempertegas bahwa stabilitas pelayaran di wilayah tersebut sangat bergantung pada konsesi politik yang bersedia diberikan oleh pihak Barat.
Masa Depan yang Penuh Ketidakpastian
Pemerintah AS, melalui Wakil Presiden JD Vance, menengarai bahwa alotnya negosiasi disebabkan oleh keengganan Iran memberikan komitmen tegas terkait program nuklir mereka. Di tengah saling tuding mengenai kegagalan membangun kepercayaan, pasar energi menjadi korban utama.
Wright menyimpulkan bahwa target penurunan harga pada musim panas mendatang merupakan perkiraan yang sangat agresif dan cenderung optimis berlebihan. Baginya, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mengembalikan stabilitas di jalur distribusi global tanpa memicu eskalasi militer yang lebih luas, sebuah tugas yang kian hari kian terasa berat bagi administrasi Trump.
Dampak Kecelakaan Hebat di Bekasi Timur, Layanan KRL Cikarang Lumpuh Total Hari Ini