Hizbullah Tolak Diplomasi Washington: Naim Qassem Desak Pemerintah Lebanon Batalkan Pertemuan dengan Israel

Siti Rahma | InfoNanti
14 Apr 2026, 07:27 WIB
Hizbullah Tolak Diplomasi Washington: Naim Qassem Desak Pemerintah Lebanon Batalkan Pertemuan dengan Israel

InfoNanti — Panggung diplomatik yang tengah dipersiapkan di Washington, Amerika Serikat, kini dihantam badai protes dari dalam negeri Lebanon sendiri. Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, secara tegas melayangkan desakan kepada Pemerintah Lebanon untuk menarik diri dari rencana pertemuan dengan pihak Israel. Agenda krusial yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 14 April 2026 tersebut dinilai sebagai langkah yang mengkhianati perjuangan rakyat.

Dalam sebuah pidato televisi yang sarat akan narasi perlawanan, Qassem menekankan bahwa kelompoknya menolak segala bentuk negosiasi langsung dengan pihak yang ia sebut sebagai entitas perampas. Ia menyerukan agar pemerintah mengambil sikap bersejarah dan heroik dengan membatalkan keterlibatan mereka dalam meja perundingan tersebut. Baginya, diplomasi di tengah agresi adalah tindakan yang sia-sia tanpa adanya konsensus nasional yang kuat di dalam negeri Lebanon.

Baca Juga

Kilas Balik 16 April 1964: Akhir Perjalanan Komplotan ‘Great Train Robbery’ di Meja Hijau Inggris

Kilas Balik 16 April 1964: Akhir Perjalanan Komplotan ‘Great Train Robbery’ di Meja Hijau Inggris

Visi Damai Israel vs Keinginan Gencatan Senjata Lebanon

Di sisi lain, Pemerintah Lebanon sebenarnya berada dalam posisi yang dilematis. Beirut sempat mengutarakan keinginan untuk mengamankan gencatan senjata terlebih dahulu guna menghentikan pertumpahan darah yang kian meluas. Namun, tawaran ini bertepuk sebelah tangan. Tel Aviv, melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, secara tegas menolak opsi gencatan senjata sementara dan lebih memilih untuk mendorong pembicaraan damai formal yang bersifat permanen.

Netanyahu menyatakan bahwa target utama Israel adalah pelucutan senjata Hizbullah secara total. Ia menginginkan sebuah perjanjian damai nyata yang mampu bertahan hingga generasi-generasi mendatang. Ambisi ini tentu bertolak belakang dengan prinsip Hizbullah yang tetap ingin mempertahankan taring militernya di wilayah Lebanon Selatan.

Baca Juga

Misi Damai Trump: Babak Baru Diplomasi Israel-Lebanon Setelah 34 Tahun Membeku

Misi Damai Trump: Babak Baru Diplomasi Israel-Lebanon Setelah 34 Tahun Membeku

Ketegangan Internal dan Protes di Jalanan

Penolakan terhadap jalur diplomasi ini tidak hanya bergema di podium pidato, tetapi juga merembet ke jalanan. Gelombang protes besar telah pecah, di mana ratusan pendukung Hizbullah mengecam kebijakan Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam. Ketegangan internal ini semakin memanas ketika para demonstran melabeli sang perdana menteri dengan sebutan yang sangat keras, mencerminkan dalamnya keretakan politik di Beirut saat ini.

Kondisi kemanusiaan di lapangan pun kian memprihatinkan. Sejak eskalasi yang dipicu oleh konflik regional pada Maret lalu, lebih dari 2.000 nyawa telah melayang di tanah Lebanon. Tidak hanya itu, gelombang pengungsi telah menembus angka satu juta jiwa, menciptakan krisis sosial yang sangat berat bagi negara tersebut.

Baca Juga

Trump Tolak Mentah-mentah Respon Iran: Babak Baru Diplomasi Panas di Selat Hormuz

Trump Tolak Mentah-mentah Respon Iran: Babak Baru Diplomasi Panas di Selat Hormuz

Medan Tempur yang Terus Membara

Di tengah perdebatan politik, desing peluru masih mendominasi wilayah selatan. Militer Israel mengklaim telah berhasil mengepung Kota Bint Jbeil dalam upaya mereka menciptakan zona keamanan. Namun, Hizbullah tidak tinggal diam. Naim Qassem menegaskan bahwa para pejuangnya akan tetap berada di medan laga hingga napas terakhir.

Ia juga melontarkan peringatan keras bahwa wilayah utara Israel tidak akan pernah merasakan keamanan selama pasukan mereka masih menginjakkan kaki di tanah Lebanon. Lebih jauh lagi, Qassem menuduh pemerintahannya sendiri telah melakukan pengkhianatan dengan menyatakan aktivitas militer Hizbullah sebagai tindakan ilegal. Ia melihat adanya upaya sistematis dari AS dan Israel untuk memperkuat tentara Lebanon hanya untuk dikonfrontasikan dengan kelompoknya, sebuah skenario yang ia yakini tidak akan pernah berhasil.

Baca Juga

Revolusi Kuliner China: Restoran AI Ini Bisa Tebak Menu Makanan Lewat Scan Lidah dan Wajah

Revolusi Kuliner China: Restoran AI Ini Bisa Tebak Menu Makanan Lewat Scan Lidah dan Wajah
Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *