Era Middle Power Tiba, Dino Patti Djalal Desak Indonesia Segera Susun Strategi Diplomasi Strategis

Siti Rahma | InfoNanti
14 Apr 2026, 11:22 WIB
Era Middle Power Tiba, Dino Patti Djalal Desak Indonesia Segera Susun Strategi Diplomasi Strategis

InfoNanti — Lanskap geopolitik global saat ini tengah mengalami transformasi besar yang menandai berakhirnya dominasi mutlak negara adidaya tunggal. Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, secara gamblang mengungkapkan bahwa dunia kini sedang melangkah masuk ke dalam fase krusial yang ia sebut sebagai The Middle Power Moment atau era kekuatan menengah.

Dalam pandangan Dino, fenomena ini ditandai dengan munculnya sekitar 20 negara yang memiliki kapasitas khusus untuk memengaruhi arah kebijakan internasional. Negara-negara ini bukan lagi sekadar penonton, melainkan pemain kunci yang mampu membentuk tatanan dunia baru melalui kombinasi kekuatan ekonomi, stabilitas politik, dan ambisi diplomatik yang progresif.

Mendefinisikan Ulang Kekuatan Menengah

Menurut analisis yang disampaikan Dino dalam forum bertajuk The Middle Power Moment, Rethinking the World Order and the Roles of Middle Powers di Jakarta, Selasa (14/4/2026), kekuatan menengah bukanlah sekadar kategori geografis. Ia menjelaskan bahwa terdapat metrik khusus yang menentukan posisi sebuah negara di panggung politik luar negeri.

Baca Juga

Imbas Konflik Timur Tengah, Harga Balon Gas di Singapura Melonjak Hingga 40 Persen

Imbas Konflik Timur Tengah, Harga Balon Gas di Singapura Melonjak Hingga 40 Persen

Metrik tersebut mencakup beberapa variabel inti, di antaranya:

  • Luas wilayah dan jumlah populasi yang signifikan.
  • Bobot ekonomi global yang diperhitungkan.
  • Kapasitas militer dan penguasaan teknologi mutakhir.
  • Ambisi kebijakan luar negeri yang mampu melampaui batas-batas tradisional.

Dino memberikan analogi yang menarik dengan menyamakan kelompok ini seperti kelas menengah dalam struktur sosial masyarakat. Meski bukan termasuk dalam kategori ‘kelas berat’ seperti negara adidaya, mereka memiliki fleksibilitas dan pengaruh yang cukup kuat untuk menggoyang dinamika global yang selama ini stagnan.

Pergeseran Poros Kekuatan ke Global South

Salah satu poin penting yang disoroti adalah bagaimana kekuatan menengah dari belahan bumi utara dan selatan (Global South) akan menjadi arsitek utama dalam tatanan dunia berikutnya. Dino memberikan contoh nyata pada persaingan antara Amerika Serikat dan Iran, di mana negara-negara seperti Arab Saudi dan Pakistan muncul sebagai penyeimbang atau mediator yang sangat menentukan.

Baca Juga

Misi Abadi Rudolf Smend: Kisah Kolektor Jerman yang Menjaga ‘Harta Karun’ Batik Indonesia di Tengah Arus Modernisasi

Misi Abadi Rudolf Smend: Kisah Kolektor Jerman yang Menjaga ‘Harta Karun’ Batik Indonesia di Tengah Arus Modernisasi

Lebih jauh lagi, Dino mencatat adanya pergeseran signifikan dalam dominasi ekonomi. Kelompok negara yang tergabung dalam BRICS kini dinilai telah melampaui kelompok G7 dalam hal Produk Domestik Bruto (PDB). Fenomena ini dibarengi dengan lonjakan belanja pertahanan di negara-negara seperti Korea Selatan, India, dan Arab Saudi yang kini mulai mengungguli beberapa negara mapan di Eropa.

Tantangan dan Peluang bagi Indonesia

Bagaimana dengan posisi Indonesia? Dino Patti Djalal menegaskan bahwa dalam dua tahun terakhir, Jakarta telah menunjukkan tren positif dengan mempererat hubungan bilateral bersama sesama kekuatan menengah lainnya, seperti Australia, Prancis, Korea Selatan, dan Turki. Hal ini menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia mulai bergerak ke arah pembangunan jejaring strategis yang lebih luas.

Baca Juga

Aksi ‘Malicious Compliance’ Karyawan Pesankan Tiket Termurah untuk Bos Viral, Kebijakan Kantor Jadi Sorotan

Aksi ‘Malicious Compliance’ Karyawan Pesankan Tiket Termurah untuk Bos Viral, Kebijakan Kantor Jadi Sorotan

Namun, Dino memberikan catatan kritis. Ia menekankan bahwa peran sebagai kekuatan menengah belum sepenuhnya terdefinisi dengan kokoh. Masih ada tantangan besar mengenai apakah negara-negara ini mampu bersatu untuk memimpin penyelesaian konflik dan memperbaiki sistem multilateral yang ada.

“Indonesia sudah jelas merupakan bagian dari kekuatan menengah saat ini. Oleh karena itu, sangat krusial bagi pemerintah untuk segera merumuskan strategi khusus—memetakan ambisi kita, menginventarisasi aset strategis, serta menentukan posisi tawar Indonesia di tengah tatanan dunia yang terus berevolusi ini,” pungkas Dino menutup paparannya.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *