Penemuan Memilukan di Hagenbach: Bocah 9 Tahun Disekap Ayah Kandung di Dalam Van Selama Bertahun-tahun

Siti Rahma | InfoNanti
13 Apr 2026, 18:52 WIB
Penemuan Memilukan di Hagenbach: Bocah 9 Tahun Disekap Ayah Kandung di Dalam Van Selama Bertahun-tahun

InfoNanti — Sebuah tragedi kemanusiaan yang menggetarkan nurani baru saja terungkap di wilayah timur Prancis. Seorang bocah laki-laki berusia sembilan tahun ditemukan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan setelah diduga dikurung dan ditelantarkan di dalam sebuah mobil van yang sempit sejak tahun 2024 lalu.

Kisah kelam ini mulai terkuak ketika warga di desa Hagenbach, sebuah kawasan tenang yang berbatasan langsung dengan Swiss dan Jerman, melaporkan adanya suara-suara mencurigakan dari sebuah kendaraan yang terparkir lama. Jaksa setempat, Nicolas Heitz, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima laporan tersebut pada Senin lalu dan segera menginstruksikan petugas untuk melakukan investigasi di lapangan.

Kondisi Korban yang Mengiris Hati

Saat petugas memaksa masuk ke dalam van tersebut, mereka disambut oleh pemandangan yang menyayat hati. Bocah malang itu ditemukan meringkuk dalam posisi seperti janin, tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Ia terkubur di bawah tumpukan sampah dan kotoran manusia, hanya beralaskan selimut tipis sebagai satu-satunya pelindung dari dingin.

Baca Juga

Momen Bersejarah: Jalur Gaza Akhirnya Menggelar Pemilu Perdana Setelah Dua Dekade Vakum

Momen Bersejarah: Jalur Gaza Akhirnya Menggelar Pemilu Perdana Setelah Dua Dekade Vakum

“Korban ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami kekurangan gizi yang parah. Ia bahkan tidak mampu berjalan karena otot-ototnya kaku akibat berada dalam posisi duduk yang terlalu lama di ruang terbatas,” ujar Heitz sebagaimana dikutip dari laporan resmi.

Berdasarkan keterangan medis, bocah tersebut diduga kuat menjadi korban kekerasan anak dalam bentuk penelantaran ekstrem. Selain kondisi fisiknya yang memprihatinkan, korban mengaku kepada penyidik bahwa ia sudah tidak pernah mandi sejak pertama kali dikurung pada November 2024.

Alibi Sang Ayah dan Tabir Kebohongan

Dalam proses interogasi awal, ayah korban memberikan pengakuan yang mengejutkan. Ia berdalih bahwa tindakannya menyekap sang anak adalah bentuk “perlindungan”. Ia mengklaim ingin menjauhkan putranya dari pasangannya yang berniat mengirim bocah tersebut ke rumah sakit jiwa.

Baca Juga

Krisis Kesehatan di MV Hondius: Evakuasi Global dan Perburuan Waktu Melawan Hantavirus

Krisis Kesehatan di MV Hondius: Evakuasi Global dan Perburuan Waktu Melawan Hantavirus

Namun, penyelidikan lebih lanjut mengungkap fakta yang kontradiktif. Tidak ditemukan catatan medis yang mendukung klaim bahwa anak tersebut memiliki gangguan kejiwaan. Sebaliknya, sebelum menghilang dari peredaran, bocah tersebut dikenal sebagai siswa yang berprestasi dan memiliki catatan akademis yang baik di sekolahnya.

Korban sendiri mengaku kepada pihak berwenang bahwa ia memang mengalami konflik hebat dengan pasangan ayahnya. Dalam kepolosannya, ia merasa ayahnya tidak memiliki pilihan lain untuk melindunginya selain dengan cara mengurungnya di dalam kendaraan tersebut.

Proses Hukum dan Nasib Anggota Keluarga Lainnya

Saat ini, ayah korban telah resmi didakwa atas kasus penculikan serta tindak penganiayaan dan kini berada dalam tahanan pihak berwenang. Sementara itu, pasangan sang ayah membantah mengetahui keberadaan bocah tersebut di dalam van. Meski demikian, ia tetap dikenai dakwaan atas kegagalan memberikan bantuan kepada anak di bawah umur yang berada dalam bahaya.

Baca Juga

Mengenal Peter Magyar: Mantan Loyalis yang Meruntuhkan Dominasi 16 Tahun Viktor Orban di Hungaria

Mengenal Peter Magyar: Mantan Loyalis yang Meruntuhkan Dominasi 16 Tahun Viktor Orban di Hungaria

Tragedi ini juga berdampak pada dua anak lainnya dalam keluarga tersebut yang masing-masing berusia 10 dan 12 tahun. Keduanya kini telah dievakuasi dan ditempatkan di bawah pengawasan ketat layanan sosial untuk mendapatkan pemulihan trauma. Pihak kejaksaan masih terus mendalami kasus ini untuk mencari tahu apakah ada pihak lain yang sengaja menutupi fakta keberadaan bocah tersebut selama bertahun-tahun.

Kasus ini menjadi peringatan keras mengenai pentingnya kepedulian lingkungan terhadap potensi kasus kriminal yang terjadi di sekitar kita. Di saat sekolah mengira anak tersebut pindah rumah, dan kerabat mengira ia sedang menjalani perawatan medis, bocah ini justru bertahan hidup dalam kesunyian di dalam sebuah van berkarat di pinggiran desa.

Baca Juga

Dua Supertanker Iran Lolos Blokade AS, Masuk Perairan Indonesia: Menguak Strategi ‘Kapal Hantu’ di Selat Lombok

Dua Supertanker Iran Lolos Blokade AS, Masuk Perairan Indonesia: Menguak Strategi ‘Kapal Hantu’ di Selat Lombok
Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *