Paus Leo XIV Jawab Kritik Tajam Donald Trump: Misi Damai Vatikan Berpijak pada Injil, Bukan Politik

Siti Rahma | InfoNanti
13 Apr 2026, 20:58 WIB
Paus Leo XIV Jawab Kritik Tajam Donald Trump: Misi Damai Vatikan Berpijak pada Injil, Bukan Politik

InfoNanti — Ketegangan diplomatik antara Takhta Suci dan Gedung Putih kini memasuki babak baru yang cukup memanas. Paus Leo XIV akhirnya memberikan tanggapan terbuka terhadap rentetan kritik pedas yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait sikap Vatikan dalam menghadapi isu perang Iran. Di tengah perjalanan apostoliknya menuju Aljazair pada Senin (13/4/2026), pemimpin tertinggi umat Katolik dunia ini menegaskan bahwa setiap seruan perdamaian yang ia suarakan murni berasal dari nilai-nilai spiritual, bukan agenda politik praktis.

Berbicara kepada awak media di atas pesawat kepausan, Paus Leo XIV menyayangkan persepsi yang mencoba menyamakan pesan-pesan kemanusiaan Gereja dengan manuver politik kepresidenan. Menurutnya, kegagalan dalam memahami esensi Injil adalah akar dari ketidaksepahaman ini. Sebagai Paus pertama dalam sejarah yang lahir di tanah Amerika, Leo memiliki beban moral unik untuk tetap teguh pada misi Gereja di panggung dunia tanpa merasa terintimidasi oleh tekanan politik dari negara asalnya sendiri.

Baca Juga

Senjata Baru Junta Myanmar: Blokade Pembalut dan Ancaman Kesehatan Perempuan di Garis Depan

Senjata Baru Junta Myanmar: Blokade Pembalut dan Ancaman Kesehatan Perempuan di Garis Depan

Prinsip Pembawa Damai di Tengah Badai Kritik

Paus Leo XIV secara eksplisit menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk menyerang individu mana pun, termasuk Donald Trump. Namun, ia menekankan bahwa ajaran tentang kasih dan perdamaian adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. “Pesan Injil sangat jelas: ‘Berbahagialah para pembawa damai’. Saya tidak akan mundur selangkah pun dalam menyerukan dialog dan rekonsiliasi demi menghindari pertumpahan darah,” tegasnya dengan nada tenang namun berwibawa.

Lebih lanjut, ia menepis kekhawatiran akan konfrontasi dengan pemerintahan Trump. Baginya, Vatikan tidak melihat kebijakan luar negeri melalui kacamata yang sama dengan para politikus. Fokus utama Vatikan adalah melindungi nyawa manusia dan mempromosikan multilateralisme sebagai solusi konflik global, mengingat banyaknya korban tak berdosa yang jatuh dalam ketegangan antara AS dan Iran.

Baca Juga

Uni Eropa Kecam Serangan Terhadap Infrastruktur Energi Iran: Tindakan Ilegal yang Tak Bisa Ditoleransi

Uni Eropa Kecam Serangan Terhadap Infrastruktur Energi Iran: Tindakan Ilegal yang Tak Bisa Ditoleransi

Serangan Verbal Donald Trump: Dari Isu Nuklir hingga Tudingan Liberal

Pernyataan tenang sang Paus berbanding terbalik dengan gaya retorika Donald Trump yang meledak-ledak. Sebelumnya, Trump melabeli Paus Leo XIV sebagai sosok yang “lemah” terhadap kejahatan dan terlalu condong pada kelompok sayap kiri radikal. Melalui platform media sosialnya, Trump bahkan secara berani menyatakan bahwa kehadiran dirinya di Gedung Putih adalah alasan mengapa Leo bisa menduduki takhta kepausan—sebuah klaim yang jarang terdengar dalam sejarah hubungan diplomatik kedua negara.

Kemarahan Trump ini dipicu oleh pernyataan Paus sebelumnya yang menyebut bahwa “delusi kemahakuasaan” sering kali menjadi bahan bakar pecahnya peperangan. Trump yang dikenal dengan kebijakan kerasnya, merasa tersinggung dan mengkritik campur tangan Paus dalam urusan militer dan kebijakan nuklir. Ia bahkan membawa isu domestik lain seperti krisis Venezuela untuk mendiskreditkan posisi moral sang Paus.

Baca Juga

Horor di Jalan Tol Tennessee: Jutaan Lebah ‘Kuasai’ Jalur Interstate 40 Usai Kecelakaan Truk

Horor di Jalan Tol Tennessee: Jutaan Lebah ‘Kuasai’ Jalur Interstate 40 Usai Kecelakaan Truk

Dukungan bagi Sang Paus dan Realitas Politik

Di balik serangan verbal tersebut, dukungan untuk Paus Leo XIV terus mengalir dari berbagai penjuru. Uskup Agung Paul S. Coakley, Presiden Konferensi Waligereja AS, menyatakan kekecewaannya atas komentar Trump yang dianggap tidak menghormati posisi Paus sebagai Wakil Kristus. Senada dengan itu, Konferensi Waligereja Italia menegaskan bahwa Paus adalah penerus Petrus yang bertugas melayani kebenaran, bukan mitra politik bagi pemimpin mana pun.

Perseteruan ini menjadi paradoks yang menarik, mengingat pada Pilpres AS 2024 lalu, Trump berhasil mengantongi 55 persen suara dari pemilih Katolik. Namun, bagi Gereja Katolik, integritas moral dalam menyuarakan penghentian perang adalah prioritas yang melampaui statistik elektoral. Paus Leo XIV menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa tangan yang penuh darah tidak akan didengarkan dalam doa, mengutip nubuat dari Kitab Yesaya sebagai peringatan bagi mereka yang lebih memilih senjata daripada meja perundingan.

Baca Juga

Fenomena Toilet Philadelphia: Ketika Kamar Mandi Menjadi Ladang Iklan Brand Global dan Revolusi Strategi Marketing

Fenomena Toilet Philadelphia: Ketika Kamar Mandi Menjadi Ladang Iklan Brand Global dan Revolusi Strategi Marketing
Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *