Mengubah Limbah Panas Jadi Energi: Kesepakatan Tarif PLTP Lahendong 15 MW Resmi Dikantongi

Rizky Pratama | InfoNanti
13 Apr 2026, 21:52 WIB
Mengubah Limbah Panas Jadi Energi: Kesepakatan Tarif PLTP Lahendong 15 MW Resmi Dikantongi

InfoNanti — Langkah nyata dalam mempercepat transisi energi bersih di Indonesia kembali menemui titik terang. Konsorsium PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) secara resmi telah mencapai kesepakatan krusial terkait tarif listrik dengan PT PLN (Persero) untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Bottoming Unit.

Proyek ambisius berkapasitas 15 megawatt (MW) ini kini siap melaju ke fase pengembangan berikutnya setelah penandatanganan Berita Acara Kesepakatan Tarif dilakukan di Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (10/4/2026). Momen ini bukan sekadar urusan angka, melainkan simbol komitmen kuat dalam mengoptimalkan kekayaan panas bumi Nusantara sebagai pilar energi berkelanjutan.

Sinergi Teknologi Binary: Mendulang Listrik dari Sisa Panas

Apa yang membuat PLTP Lahendong Bottoming Unit begitu istimewa? Jawabannya terletak pada penggunaan teknologi binary atau bottoming cycle. Secara sederhana, teknologi ini bekerja seperti sistem daur ulang energi. Alih-alih membuang panas sisa dari operasi pembangkit panas bumi yang sudah ada, teknologi ini menangkap kembali energi tersebut untuk dikonversi menjadi tambahan daya listrik.

Baca Juga

Beralih ke Bahan Bakar Gas: Rahasia Efisiensi Mesin dan Solusi Dompet Hemat di Era Energi Hijau

Beralih ke Bahan Bakar Gas: Rahasia Efisiensi Mesin dan Solusi Dompet Hemat di Era Energi Hijau

Metode ini dianggap sebagai salah satu inovasi teknologi paling efisien di industri geothermal saat ini. Dengan memaksimalkan setiap derajat panas yang tersedia, efisiensi pembangkitan meningkat tanpa perlu melakukan pengeboran sumur baru secara masif, sehingga lebih ramah lingkungan dan ekonomis secara operasional.

Visi Strategis Menuju Kemandirian Energi

Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Ahmad Yani, mengungkapkan rasa optimisnya terhadap kelanjutan proyek ini. Menurutnya, kesepakatan tarif ini adalah fondasi bagi percepatan transisi energi nasional. Beliau menegaskan bahwa teknologi bottoming memungkinkan potensi energi yang sebelumnya ‘tertidur’ untuk segera dimanfaatkan demi kepentingan masyarakat luas.

“Kami memastikan proyek ini tetap berjalan sesuai timeline. Dengan mengonversi panas sisa menjadi listrik, kita memperkuat bauran energi nasional secara lebih cerdas dan efisien,” tutur Ahmad Yani dalam keterangannya.

Baca Juga

Update Harga Emas Pegadaian Hari Ini: Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Terkoreksi di Tengah Sentimen Global

Update Harga Emas Pegadaian Hari Ini: Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Terkoreksi di Tengah Sentimen Global

Target Operasi dan Peta Jalan Masa Depan

Pasca tercapainya kesepakatan tarif, agenda besar telah menanti di depan mata. Tahapan selanjutnya meliputi pembentukan perusahaan patungan (joint venture), eksekusi proses Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC), hingga finalisasi Power Purchase Agreement (PPA). Jika seluruh proses berjalan mulus, proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada tahun 2028.

Langkah ini menyusul kesuksesan serupa pada akhir 2025, di mana PGE dan PLN IP juga menyepakati tarif untuk proyek PLTP Ulubelu Bottoming Unit 30 MW. Secara total, sinergi dua raksasa BUMN ini mencakup pengembangan di 19 lokasi proyek eksisting dengan ambisi total kapasitas mencapai 530 MW.

Baca Juga

Skandal Evergrande Memasuki Babak Baru: Hui Ka Yan Mengaku Bersalah di Tengah Prahara Properti China

Skandal Evergrande Memasuki Babak Baru: Hui Ka Yan Mengaku Bersalah di Tengah Prahara Properti China

Sebagai pionir dengan pengalaman lebih dari empat dekade, PGE terus menunjukkan taringnya dalam investasi energi masa depan. Saat ini, perusahaan telah mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW dari enam wilayah operasi utama, sembari terus mematangkan berbagai proyek strategis lainnya untuk memenuhi kebutuhan listrik ramah lingkungan di masa mendatang.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *