Instabilitas Donald Trump Picu Desakan Amandemen ke-25, Eks Direktur CIA: Dia Berbahaya bagi Dunia
InfoNanti — Gelombang desakan untuk melengserkan Donald Trump dari kursi kepresidenan Amerika Serikat kembali memanas menyusul pernyataan keras dari mantan Direktur CIA, John Brennan. Tokoh intelijen senior tersebut secara terbuka menyuarakan perlunya penerapan Amandemen ke-25 Konstitusi AS untuk mencopot Trump, dengan alasan bahwa sang presiden kini berada dalam kondisi mental yang tidak stabil dan membahayakan keselamatan global.
Dalam sebuah wawancara mendalam dengan MS Now pada Sabtu (11/4/2026), Brennan menegaskan bahwa instrumen hukum yang diadopsi sejak tahun 1967 tersebut seolah dirancang khusus untuk menghadapi situasi krisis kepemimpinan seperti yang terjadi saat ini. Menurutnya, perilaku Trump belakangan ini bukan sekadar gaya politik luar negeri yang agresif, melainkan indikasi hilangnya kendali diri yang berisiko memicu bencana kemanusiaan skala besar.
Tragedi Gempa Friuli 1976: Malam Kelam Saat Pegunungan Alpen Italia Berguncang Hebat
Ancaman Terhadap Peradaban Iran
Pemicu utama kemarahan Brennan adalah retorika terbaru Trump yang mengancam akan menghapus peradaban Iran dari peta dunia jika ultimatumnya tidak dipenuhi. Brennan menilai pernyataan tersebut bukan sekadar gertakan politik, melainkan sinyal nyata penggunaan arsenal nuklir yang berada di bawah komando presiden. “Orang ini jelas tidak stabil,” tegas Brennan, sebagaimana dikutip dari laporan The Guardian.
Brennan, yang memimpin CIA di era pemerintahan Barack Obama, menekankan bahwa membiarkan Trump tetap menjabat sebagai panglima tertinggi militer adalah sebuah pertaruhan yang terlalu besar bagi keamanan nasional AS. Ia menyoroti betapa besarnya kekuatan nuklir yang berada di genggaman seorang pemimpin yang dianggapnya sudah kehilangan stabilitas emosional.
Diplomasi Kilat di Islamabad: Trump Terima 10 Tuntutan Iran demi Gencatan Senjata Permanen
Gerakan Amandemen ke-25 di Kongres
Narasi yang dibangun Brennan ternyata mendapat resonansi kuat di Capitol Hill. Berdasarkan data yang dihimpun, lebih dari 70 anggota Partai Demokrat di Kongres kini secara resmi menyerukan agar Wakil Presiden JD Vance dan mayoritas kabinet mengambil langkah tegas. Amandemen ke-25 memungkinkan pencopotan presiden jika terbukti tidak mampu menjalankan tugas dan kewajiban konstitusionalnya.
Namun, jalan menuju pelengseran ini diprediksi tidak akan mulus. Hingga saat ini, loyalitas JD Vance dan jajaran kabinet terhadap Trump dilaporkan masih sangat solid. Meskipun pembicaraan damai antara AS dan Iran menemui jalan buntu dan risiko konflik militer kembali meningkat, kecil kemungkinan kabinet akan berbalik melawan sang presiden dalam waktu dekat.
Tragedi Gempa Iran 10 April 1972: Saat Kota Ghir Lenyap dalam Sekejap dan 5.000 Nyawa Melayang
Perseteruan Personal di Balik Layar
Menariknya, komentar pedas Brennan muncul di tengah tekanan hukum yang menjepit dirinya. Saat ini, Brennan tengah berada di bawah radar penyelidikan aktif Kementerian Kehakiman AS (DOJ) di bawah kendali pemerintahan Trump. Sejak Juli 2025, DOJ telah membuka penyelidikan kriminal terhadap Brennan dan mantan Direktur FBI James Comey terkait peran mereka dalam investigasi campur tangan Rusia pada pemilu 2016.
Meskipun upaya hukum terhadap Comey sempat kandas di tangan hakim karena prosedur pengangkatan jaksa yang dinilai tidak sah, penyelidikan terhadap Brennan dilaporkan justru semakin intensif. Ketua Komite Kehakiman DPR AS, Jim Jordan, yang dikenal sebagai sekutu setia Trump, menyatakan bahwa proses hukum terhadap Brennan terus menunjukkan perkembangan signifikan atau “semakin memanas”.
Keajaiban Medis di Siberia: Kisah Pria yang Bangkit dari Kematian Klinis Usai Tubuhnya Membeku
Kondisi ini menciptakan drama politik yang kompleks, di mana perdebatan mengenai konstitusi dan keselamatan dunia berkelindan dengan perseteruan hukum personal antara penguasa Gedung Putih dan mantan pimpinan komunitas intelijen Amerika.