Dobrak Sejarah 125 Tahun, Letnan Jenderal Susan Coyle Jadi Perempuan Pertama yang Pimpin Angkatan Darat Australia

Siti Rahma | InfoNanti
13 Apr 2026, 15:23 WIB
Dobrak Sejarah 125 Tahun, Letnan Jenderal Susan Coyle Jadi Perempuan Pertama yang Pimpin Angkatan Darat Australia

InfoNanti — Sebuah lembaran baru dalam catatan militer global baru saja terbuka. Pemerintah Australia secara resmi mengumumkan penunjukan Letnan Jenderal Susan Coyle sebagai Kepala Angkatan Darat yang baru. Langkah ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa, melainkan sebuah dobrak sejarah karena untuk pertama kalinya posisi prestisius tersebut dipegang oleh seorang perempuan dalam 1,25 abad terakhir.

Era Baru Kepemimpinan di Tubuh Angkatan Darat

Penunjukan ini merupakan bagian dari perombakan besar-besaran di jajaran kepemimpinan militer Australia. Letnan Jenderal Coyle dijadwalkan akan mengemban tugas barunya mulai Juli mendatang, menggantikan Simon Stuart. Saat ini, Coyle masih memegang peranan krusial sebagai kepala kemampuan gabungan di Angkatan Pertahanan Australia (ADF).

Baca Juga

Ketegangan Meningkat, Donald Trump Sebut Gencatan Senjata dengan Iran Berada di Titik Nadir

Ketegangan Meningkat, Donald Trump Sebut Gencatan Senjata dengan Iran Berada di Titik Nadir

Perdana Menteri Anthony Albanese tidak menutupi rasa bangganya saat menyampaikan pengumuman bersejarah ini. Menurutnya, kehadiran Coyle di pucuk pimpinan Angkatan Darat adalah sebuah pencapaian simbolis yang sangat kuat bagi bangsa yang telah memiliki institusi militer selama lebih dari seratus tahun.

“Mulai Juli nanti, sejarah 125 tahun Angkatan Darat Australia akan mencatat pemimpin perempuan pertamanya,” ungkap Albanese dalam pernyataan resminya sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Senin (13/4/2026).

Inspirasi dan Representasi: “You Can’t Be What You Can’t See”

Menteri Pertahanan Richard Marles turut memberikan apresiasi tinggi terhadap keputusan ini. Ia menekankan betapa pentingnya representasi nyata dalam membangun institusi yang inklusif. Marles mengutip sebuah prinsip mendalam yang disampaikan Coyle kepadanya: bahwa seseorang sulit untuk memimpikan sebuah posisi jika mereka tidak pernah melihat bukti bahwa posisi tersebut bisa dicapai oleh orang seperti mereka.

Baca Juga

Starlux Airlines Resmi Buka Rute Langsung Taipei-Bali, Jembatani Wisatawan Global ke Pulau Dewata

Starlux Airlines Resmi Buka Rute Langsung Taipei-Bali, Jembatani Wisatawan Global ke Pulau Dewata

Susan Coyle, yang kini berusia 55 tahun, bukanlah sosok baru di dunia pertahanan. Mengawali kariernya sejak tahun 1987, ia telah melewati berbagai penugasan strategis yang mengasah kepemimpinannya. Dedikasinya membawa Coyle menjadi perempuan pertama yang memimpin cabang layanan militer utama di bawah naungan Australian Defence Force (ADF).

Tantangan dan Harapan di Tengah Reformasi Budaya

Langkah progresif ini hadir saat ADF tengah berupaya keras meningkatkan partisipasi perempuan di lingkungan militer. Saat ini, keterlibatan perempuan mencakup sekitar 21 persen dari total personel, dengan 18,5 persen menduduki posisi kepemimpinan senior. Target ambisius pun telah ditetapkan, yakni mencapai angka partisipasi 25 persen pada tahun 2030 guna mewujudkan kesetaraan gender yang lebih baik.

Baca Juga

Drama di Udara: Pesawat PM Spanyol Pedro Sanchez Mendarat Darurat di Turki Saat Menuju Armenia

Drama di Udara: Pesawat PM Spanyol Pedro Sanchez Mendarat Darurat di Turki Saat Menuju Armenia

Namun, perjalanan menuju reformasi ini tetap dibayangi oleh tantangan besar. Pada Oktober lalu, sebuah gugatan class action mencuat ke publik, menuduh kegagalan institusi dalam melindungi ribuan personel perempuan dari praktik pelecehan, kekerasan, dan diskriminasi sistematis. Kehadiran Coyle diharapkan mampu membawa perubahan budaya yang lebih sehat di dalam internal militer.

Selain Letnan Jenderal Coyle, pemerintah juga melakukan penyegaran di posisi kunci lainnya. Wakil Laksamana Mark Hammond kini dipercaya menjabat sebagai Kepala ADF menggantikan Laksamana David Johnston. Sementara itu, posisi Kepala Angkatan Laut akan diisi oleh Laksamana Muda Matthew Buckley. Transformasi kepemimpinan ini diharapkan tidak hanya memperkuat pertahanan nasional, tetapi juga menjawab tuntutan reformasi moral di tubuh militer Australia.

Baca Juga

Jejak Persistensi Netanyahu: Bagaimana Empat Presiden AS Merespons Desakan Serangan Militer ke Iran

Jejak Persistensi Netanyahu: Bagaimana Empat Presiden AS Merespons Desakan Serangan Militer ke Iran
Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *