Arah Kebijakan Trump Picu Turbulensi Global, Eks Menlu India: Tatanan Barat Mulai Retak
InfoNanti — Dinamika perpolitikan dunia kini tengah berada di persimpangan jalan yang penuh teka-teki. Mantan Menteri Luar Negeri India, Shyam Saran, memberikan sorotan tajam terhadap arah kebijakan luar negeri Donald Trump yang dinilai telah menyeret tatanan dunia ke dalam pusaran ketidakpastian yang kian mendalam, baik dari sisi stabilitas politik maupun fundamental ekonomi.
Dalam sebuah forum prestisius bertajuk The Middle Power Moment, Rethinking the World Order and the Roles of Middle Powers yang digelar di Hotel St. Regis, Jakarta, Selasa (14/4/2026), Saran mengungkapkan bahwa fenomena ini bukanlah isu sektoral semata. Menurut pandangannya, hampir seluruh penjuru dunia kini sedang meraba-raba arah angin geopolitik yang semakin sulit diprediksi.
Hong Kong Ketuk Palu: Larangan Vape di Ruang Publik Resmi Berlaku, Pelanggar Terancam Denda Jutaan
Runtuhnya Kohesi Dunia Barat
Salah satu poin krusial yang digarisbawahi oleh Saran adalah pergeseran peran Washington yang secara tidak langsung melemahkan koalisi negara-negara Barat. Ia berpendapat bahwa entitas “Barat” yang selama ini dikenal solid dengan nilai dan kepentingan yang sejalan, kini perlahan mulai kehilangan koherensinya dan tidak lagi tampak sebagai kekuatan yang padu.
“Barat seperti yang kita kenal selama ini tidak lagi eksis dalam bentuk yang koheren,” tutur Saran. Pernyataan ini mencerminkan betapa signifikannya dampak perubahan kepemimpinan di Amerika Serikat terhadap stabilitas aliansi tradisional mereka di kancah internasional.
Relasi India-AS: Antara Ketegangan Politik dan Kerja Sama Teknis
Meskipun badai ketidakpastian menerjang, India tampaknya memiliki daya tahan yang sedikit lebih baik dibandingkan sekutu dekat AS lainnya. Saran mengibaratkan hubungan antara New Delhi dan Washington layaknya sebuah “pendulum terbalik”. Di permukaan, tensi politik mungkin terasa fluktuatif dan memanas, namun di level teknis, roda kerja sama tetap berputar stabil.
Tragedi di Tepi Barat: Kisah Pilu Sabriya Shamasneh, Lansia Palestina yang Tewas dalam Penggerebekan Israel
Kolaborasi strategis di sektor pertahanan, pengembangan teknologi tinggi, hingga isu kontra-terorisme dikabarkan tetap berjalan tanpa hambatan berarti. Namun, bukan berarti jalur ini tanpa kerikil tajam. Sektor perdagangan menjadi titik panas di mana India sempat menghadapi tekanan tarif tinggi hingga mencapai 50 persen, sebelum akhirnya berhasil ditekan ke angka 10 persen setelah melalui proses hukum di pengadilan Amerika Serikat.
Peluang di Tengah Krisis dan Peran Kekuatan Menengah
Menariknya, ketidakpastian global ini justru memicu India untuk melakukan diversifikasi kemitraan. Saran menyebutkan bahwa India kini semakin agresif memperluas jangkauan diplomasinya, termasuk mempercepat langkah negosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa sebagai langkah antisipasi terhadap dinamika global.
Ketegangan Teluk Memuncak: Serangan Drone dan Rudal Iran Hantam Kilang Minyak Fujairah, Stabilitas Energi Global Terancam
Di sisi lain, pergeseran geopolitik di kawasan Asia Selatan, khususnya situasi di Afghanistan pasca-kembalinya Taliban, turut menjadi sorotan. Meski sempat dibayangi kekhawatiran akan bangkitnya basis terorisme lintas batas, dinamika terbaru justru menunjukkan tren membaiknya hubungan India dengan otoritas Afghanistan, di tengah meruncingnya relasi antara Afghanistan dan Pakistan.
Sebagai penutup, Saran menekankan bahwa di tengah turbulensi global ini, negara-negara dengan kekuatan menengah (middle powers) memegang kunci stabilitas yang krusial. Mereka memiliki potensi besar untuk bertindak sebagai penyeimbang dan penjaga perdamaian di masa yang penuh gejolak ini. “Dalam situasi global yang sangat sulit, kekuatan menengah memiliki peluang besar untuk menjadi motor penggerak perdamaian dunia,” pungkasnya.
Geger Hoaks AI Serigala di Korea Selatan: Lelucon ‘Iseng’ yang Berujung Ancaman 5 Tahun Penjara