Babak Baru Krisis Timur Tengah: Donald Trump Perintahkan Blokade Total Selat Hormuz Usai Diplomasi Buntu
InfoNanti — Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan. Setelah upaya diplomasi maraton antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan berakhir tanpa titik temu, Presiden Donald Trump secara resmi menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk melakukan blokade penuh di Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang kini berada di ambang kelumpuhan.
Melalui pernyataan lugas di media sosial pada Minggu (12/4/2026), Trump mengungkapkan kekecewaannya terhadap hasil perundingan tersebut. Meski mengklaim banyak poin yang sempat disepakati, isu krusial mengenai program nuklir menjadi batu sandungan utama yang meruntuhkan meja perundingan. Sebagai respons, Trump memerintahkan armada laut terbaiknya untuk mencegat setiap kapal yang mencoba melintasi selat strategis tersebut.
Dilema Ekspansi Uni Eropa: Mengapa Pintu Bagi Anggota Baru Masih Tertutup Rapat?
Tuduhan Pemerasan dan Operasi Pembersihan Ranjau
Trump menuduh Teheran melakukan tindakan yang ia sebut sebagai “pemerasan terhadap dunia.” Ia menuding Iran memaksa kapal-kapal komersial membayar sejumlah biaya ilegal untuk bisa melintas. Tak hanya itu, Presiden AS ke-47 ini menegaskan bahwa pasukan Amerika akan segera memulai operasi pembersihan ranjau laut yang diduga kuat telah dipasang oleh pihak Iran di wilayah perairan internasional.
“Mulai saat ini, Angkatan Laut AS akan memblokade setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz. Kami tidak akan membiarkan mereka menghasilkan uang dari penjualan minyak secara sepihak. Ini adalah kebijakan segalanya atau tidak sama sekali,” tegas Trump dalam wawancara eksklusifnya dengan Fox News.
Gelombang Eksodus Generasi Z: Mengapa Satu dari Lima Anak Muda Ingin Meninggalkan Jerman?
Dampak Guncangan pada Ekonomi Global
Kebijakan drastis ini diprediksi akan memperburuk kondisi ekonomi global yang sudah rapuh. Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari lalu, Iran telah memperketat kendali di Selat Hormuz, yang mengakibatkan aliran seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia tersendat. Perdagangan internasional kini dihantui ketidakpastian besar, mengingat pentingnya jalur ini bagi stabilitas harga energi.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memberikan peringatan keras. Meskipun mereka mengeklaim kapal sipil masih diizinkan melintas dengan regulasi ketat, kehadiran kapal militer asing akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan dihadapi dengan tindakan militer yang tegas.
Kritik dari Dalam Negeri dan Reaksi Internasional
Langkah provokatif Trump ini tidak lepas dari kritik tajam di dalam negeri. Senator dari Partai Demokrat, Mark Warner, mempertanyakan efektivitas blokade tersebut. Ia menilai bahwa menutup jalur secara paksa justru kontradiktif dengan upaya mendorong Iran untuk membuka akses navigasi yang bebas.
Tragedi Perahu Tenggelam di Pulau Pangkor: 23 WNI Selamat, 14 Penumpang Masih Dalam Pencarian Intensif
Sementara itu, mediator internasional seperti Oman terus mendesak agar kedua belah pihak menahan diri. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyerukan agar dialog tetap diprioritaskan guna menghindari tumpah darah yang lebih besar. Namun, Trump tampak bergeming dan bahkan mengeklaim bahwa Inggris serta beberapa sekutu lainnya akan segera mengirimkan kapal penyapu ranjau untuk mendukung operasi Amerika Serikat.
Instruksi CENTCOM: Blokade Dimulai Hari Ini
Sebagai tindak lanjut dari perintah eksekutif tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa blokade maritim terhadap seluruh pelabuhan Iran akan dimulai pada 13 April pukul 10.00 waktu Timur AS, atau sekitar pukul 21.00 WIB malam ini. Blokade ini akan mencakup seluruh wilayah pesisir Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Keajaiban Kekuatan Rambut: Seniman Sirkus Meksiko Ukir Sejarah Baru di Rekor Dunia Guinness
CENTCOM menegaskan bahwa mereka akan memberikan pemberitahuan resmi kepada kapal komersial sebelum tindakan pencegatan dilakukan. Meski demikian, mereka berjanji tidak akan menghambat kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang menuju pelabuhan non-Iran. Situasi di kawasan ini kini berada pada level waspada tertinggi, di mana setiap percikan kecil bisa menyulut perang terbuka yang lebih luas dan berdampak pada harga minyak dunia secara signifikan.