Geopolitik Memanas, Somalia Kecam Manuver Israel yang Akui Kedaulatan Somaliland: Sebuah Provokasi Diplomatik?
InfoNanti — Di tengah rapuhnya stabilitas di kawasan Tanduk Afrika, sebuah badai diplomatik baru saja pecah dan menggetarkan panggung politik internasional. Presiden Somalia, Hassan Sheikh Mohamud, melontarkan kecaman keras terhadap langkah berani Israel yang secara resmi mengakui kemerdekaan Somaliland. Langkah Tel Aviv ini dianggap bukan sekadar pengakuan politik biasa, melainkan sebuah bentuk eksploitasi terhadap luka lama dan sengketa internal yang telah menghantui wilayah tersebut selama puluhan tahun.
Dalam sebuah pernyataan yang penuh dengan nada emosional namun tetap tegas, Presiden Mohamud melabeli keputusan Israel tersebut sebagai salah satu momen paling kelam dalam lembaran sejarah modern Somalia. Ia menuduh Israel sengaja menyusup ke dalam celah ketegangan antara pemerintah pusat di Mogadishu dengan wilayah separatis Somaliland demi kepentingan geopolitiknya sendiri. Kejadian ini menambah daftar panjang ketegangan di wilayah yang memang sudah menjadi titik didih geopolitik Afrika dalam beberapa waktu terakhir.
Sumbangan Salah Sasaran: Tas Berisi Ganja dan Ribuan Dolar Gegerkan Toko Amal di Selandia Baru
Manuver Tel Aviv di Tengah Luka Lama
Berbicara dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Dawan TV, stasiun televisi lokal yang berbasis di Mogadishu, Presiden Mohamud tidak menahan diri untuk mengkritik strategi Israel. Ia menyatakan bahwa Tel Aviv secara sadar memanfaatkan perselisihan berkepanjangan antara Mogadishu dan Hargeisa (ibu kota Somaliland) untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan strategis tersebut. Pengakuan Israel ini, menurut laporan yang juga disadur dari TRT, dipandang sebagai intervensi yang tidak diinginkan dan mencederai integritas teritorial sebuah negara berdaulat.
Presiden Mohamud menekankan bahwa masalah Somaliland adalah urusan internal keluarga besar Somalia yang harus diselesaikan melalui mekanisme domestik tanpa campur tangan pihak asing yang memiliki agenda tersembunyi. Bagi pemerintah Somalia, setiap langkah internasional yang memberikan legitimasi kepada entitas separatis tanpa persetujuan Mogadishu adalah sebuah pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip kedaulatan negara.
Menelusuri Jejak Sejarah 12 Juni 1898: Proklamasi Kemerdekaan Filipina dan Perjuangan Melawan Belenggu Kolonial
Sejarah Panjang Perpecahan: Antara Mogadishu dan Hargeisa
Untuk memahami mengapa reaksi Somalia begitu keras, kita perlu menengok kembali ke belakang pada tahun 1991. Sejak runtuhnya rezim militer di Somalia, Somaliland secara sepihak menyatakan kemerdekaannya. Meskipun wilayah tersebut telah berhasil membangun pemerintahan yang relatif stabil, memiliki mata uang sendiri, dan menyelenggarakan pemilu yang demokratis, dunia internasional sebagian besar tetap menahan diri untuk memberikan pengakuan formal. Somaliland hingga saat ini masih dianggap secara hukum sebagai bagian dari Somalia oleh Uni Afrika dan PBB.
Selama lebih dari tiga dekade, Mogadishu telah menempuh jalan yang panjang dan berliku untuk menyatukan kembali wilayah tersebut. Kedaulatan wilayah menjadi harga mati bagi setiap pemimpin Somalia. Presiden Mohamud menjelaskan bahwa pemerintahnya selalu mengedepankan pendekatan yang lembut namun konsisten. “Kami telah mempertimbangkan berbagai opsi untuk menangani persoalan Somaliland, dan kami secara sadar memilih jalur dialog serta persuasi ketimbang menggunakan kekuatan militer,” ungkapnya dalam wawancara tersebut.
Misi Damai Islamabad: Mengapa Iran Percayakan Pakistan sebagai Jembatan Dialog dengan Amerika Serikat?
Pilihan untuk tidak menggunakan kekuatan senjata, meskipun memakan waktu lebih dari 30 tahun tanpa hasil yang final, dianggap sebagai langkah paling bermartabat dan manusiawi. Namun, kehadiran Israel sebagai pemain baru yang tiba-tiba mengakui kemerdekaan Somaliland pada akhir Desember 2025 dianggap mengancam seluruh proses dialog yang telah dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.
Ketegangan Ideologis dan Sentimen Palestina
Hubungan (atau ketiadaan hubungan) antara Somalia dan Israel memiliki akar ideologis dan religius yang sangat kuat. Presiden Mohamud kembali menegaskan posisi negaranya bahwa Somalia tidak pernah, dan tidak akan pernah, menjalin hubungan diplomatik dengan Israel selama isu kemanusiaan di Palestina belum terselesaikan. Hal ini mempertegas mengapa langkah Israel mengakui Somaliland dipandang sangat provokatif oleh Mogadishu.
Tragedi Kemanusiaan di Afghanistan: Saat Kemiskinan Ekstrem Memaksa Orang Tua Menjual Anak Demi Bertahan Hidup
Dalam pandangan pemerintah Somalia, Israel adalah pihak agresor dalam konflik Timur Tengah yang terus menekan rakyat Palestina. Dengan demikian, ketika Israel memberikan dukungan diplomatik kepada Somaliland, hal tersebut dilihat sebagai upaya untuk memecah belah persatuan umat dan bangsa-bangsa di Afrika Timur. Ada kekhawatiran besar bahwa pengakuan ini akan membuka pintu bagi negara-negara lain untuk mengikuti jejak serupa, yang pada akhirnya akan merobek peta kedaulatan Somalia secara permanen.
Implikasi Strategis di Laut Merah
Mengapa Israel begitu tertarik pada Somaliland? Jawabannya terletak pada letak geografis Somaliland yang sangat strategis di sepanjang pesisir Teluk Aden, yang merupakan pintu masuk menuju Laut Merah dan Terusan Suez. Memiliki sekutu di wilayah ini akan memberikan keuntungan strategis yang luar biasa bagi Israel, baik dari sudut pandang keamanan maritim maupun pengawasan terhadap aktivitas Iran di kawasan tersebut.
Namun, bagi Somalia, kepentingan strategis Israel tersebut tidak boleh mengorbankan integritas wilayah mereka. Hubungan internasional yang sehat, menurut Mohamud, seharusnya dibangun di atas dasar saling menghormati batas-batas negara yang sah, bukan dengan memanfaatkan perpecahan internal untuk keuntungan sepihak. Reaksi Somalia ini juga merupakan pesan kepada komunitas internasional bahwa mereka tidak akan tinggal diam terhadap upaya-upaya de-stabilisasi kawasan.
Masa Depan Dialog yang Terancam
Dengan adanya pengakuan dari Israel, masa depan pembicaraan antara Mogadishu dan Hargeisa kini berada di titik nadir. Kepercayaan yang mulai tumbuh perlahan kini berganti dengan kecurigaan dan kemarahan. Presiden Mohamud menyerukan kepada rakyatnya untuk tetap bersatu dan tidak terhasut oleh provokasi luar yang ingin melihat Somalia terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil yang lemah.
“Meskipun membutuhkan waktu yang sangat lama, jalur dialog adalah satu-satunya cara yang tepat dalam situasi yang kita hadapi saat ini,” tegas Mohamud. Ia berharap dunia internasional tetap konsisten pada prinsip kedaulatan Somalia dan tidak ikut terjebak dalam permainan berbahaya yang sedang dimainkan oleh Tel Aviv. Bagi Somalia, Somaliland adalah bagian tak terpisahkan dari tubuh mereka, dan setiap upaya untuk memisahkannya akan dihadapi dengan perlawanan diplomatik yang gigih.
Kesimpulannya, pengakuan Israel terhadap Somaliland telah membuka kotak pandora di kawasan Tanduk Afrika. Ini bukan sekadar masalah pengakuan negara baru, melainkan tentang bagaimana kekuatan global bermain di atas konflik lokal. Bagaimana kelanjutan dari drama diplomatik ini? Kita hanya bisa menunggu apakah tekanan internasional akan mampu meredam ketegangan atau justru membakar api konflik yang lebih besar di masa depan.