Piala Dunia 2026: Mengapa Jerman Memilih ‘Low Profile’ di Tengah Skuad Bertabur Bintang?

Fajar Nugroho | InfoNanti
09 Jun 2026, 00:51 WIB
Piala Dunia 2026: Mengapa Jerman Memilih 'Low Profile' di Tengah Skuad Bertabur Bintang?

InfoNanti — Menjelang perhelatan akbar sepak bola sejagat yang akan segera bergulir, aura berbeda terpancar dari kamp pelatihan Die Mannschaft. Alih-alih melontarkan jargon sesumbar tentang trofi kelima, Timnas Jerman justru menunjukkan sikap yang jauh lebih membumi. Dalam sebuah langkah yang mengejutkan banyak pengamat, raksasa Eropa ini secara terbuka menyatakan bahwa mereka bukanlah kandidat utama peraih gelar juara pada Piala Dunia 2026 mendatang.

Dilema Sang Raksasa: Jerman Mencoba Membumi

Langkah ini tentu terasa ganjil bagi negara yang memiliki empat bintang di dada mereka. Namun, di bawah arahan strategis Julian Nagelsmann, Jerman tampaknya sedang mencoba meredam tekanan publik yang selama ini sering menjadi beban berat bagi para pemain. Pengakuan sebagai tim non-unggulan ini bukan berarti bentuk pesimisme, melainkan sebuah strategi psikologis untuk membangun kembali mentalitas tim dari titik nol.

Baca Juga

Revolusi Olahraga Mahasiswa: Campus League Gagas Format Home and Away untuk Cetak Atlet Profesional

Revolusi Olahraga Mahasiswa: Campus League Gagas Format Home and Away untuk Cetak Atlet Profesional

Leon Goretzka, salah satu pilar lini tengah senior, menjadi sosok yang menyuarakan realitas baru ini. Dalam sesi wawancara mendalam yang dilansir melalui platform resmi FIFA, Goretzka menekankan bahwa peta kekuatan sepak bola dunia telah bergeser secara signifikan. Ia mengakui bahwa status Jerman saat ini tidak lagi sama seperti satu dekade lalu ketika mereka mendominasi dunia di tanah Brasil.

Pernyataan Jujur Leon Goretzka: Realitas di Atas Ekspektasi

“Situasinya memang sedikit berbeda dibandingkan turnamen-turnamen sebelumnya. Jujur saja, saya rasa kami tidak akan masuk dalam jajaran tim favorit utama,” ungkap Goretzka dengan nada tenang namun tegas. Menurutnya, meskipun Jerman tetap membawa nama besar, ada tim-tim lain yang saat ini memiliki momentum lebih stabil dan konsistensi permainan yang lebih teruji dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga

Masa Depan Manuel Neuer: Akankah Sang Legenda Mengakhiri Era di Bayern Munich Musim Ini?

Masa Depan Manuel Neuer: Akankah Sang Legenda Mengakhiri Era di Bayern Munich Musim Ini?

Namun, punggawa Bayern Munchen ini juga menegaskan bahwa menyandang status ‘bukan favorit’ tidak lantas membuat Timnas Jerman kehilangan ambisi. “Ada ekspektasi yang sangat tinggi terhadap kami sebagai negara sepak bola, dan itu sudah semestinya. Kami memiliki beberapa pemain bintang di tim kami, dan saya percaya bahwa jika kami semua fit dan dalam performa terbaik, kami bisa mencapai banyak hal di Piala Dunia ini,” tambahnya.

Skuad Mewah dengan Tantangan Kolektivitas

Jika kita melihat daftar pemain yang dipanggil Nagelsmann, klaim Jerman sebagai ‘bukan favorit’ sebenarnya terdengar sedikit ironis. Nama-nama seperti Florian Wirtz yang sedang naik daun, kelincahan Leroy Sane, hingga kepemimpinan Joshua Kimmich dan Antonio Ruediger adalah jaminan kualitas di setiap lini. Belum lagi kehadiran kiper legendaris Manuel Neuer yang masih menjadi benteng terakhir yang kokoh.

Baca Juga

Drama ‘Perang Saudara’ di Istora: Jonatan Christie Redam Perlawanan Sengit Alwi Farhan di Indonesia Open 2026

Drama ‘Perang Saudara’ di Istora: Jonatan Christie Redam Perlawanan Sengit Alwi Farhan di Indonesia Open 2026

Masalah utama bagi Jerman dalam beberapa turnamen besar terakhir bukanlah kurangnya talenta individu, melainkan bagaimana menyatukan ego dan bakat tersebut menjadi satu kesatuan mesin perang yang efektif. Goretzka percaya bahwa kunci sukses di Amerika Utara nanti adalah proses adaptasi selama turnamen berlangsung. “Jika kami mampu berkembang sebagai sebuah tim selama turnamen berlangsung, tidak ada yang tidak mungkin. Namun, saya tetap tidak melihat kami sebagai favorit utama saat ini,” pungkasnya.

Analisis Grup E: Jalan Terjal Menuju Babak Gugur

Berdasarkan hasil undian, Jerman tergabung dalam Grup E. Di atas kertas, Jerman seharusnya bisa melaju dengan mulus, namun sejarah mencatat bahwa meremehkan lawan adalah awal dari kehancuran. Mereka akan bersaing dengan Curacao, Pantai Gading, dan Ekuador. Masing-masing lawan membawa karakteristik permainan yang berbeda; mulai dari fisik kuat tim Afrika hingga ketangguhan taktis tim Amerika Selatan.

Baca Juga

Evaluasi Mendalam Garuda Pertiwi: Timnas Putri Indonesia Harus Mengakui Keunggulan Singapura di FIFA Matchday

Evaluasi Mendalam Garuda Pertiwi: Timnas Putri Indonesia Harus Mengakui Keunggulan Singapura di FIFA Matchday

Pertandingan pembuka melawan Curacao yang dijadwalkan berlangsung di NRG Stadium pada Senin, 15 Juni 2026 dini hari WIB, akan menjadi ujian pertama. Kemenangan di laga perdana sangat krusial bagi anak asuh Nagelsmann untuk membangun kepercayaan diri dan membuktikan bahwa strategi ‘low profile’ mereka hanyalah taktik untuk mengejutkan dunia.

Siapa yang Menjadi Unggulan Teratas?

Lalu, jika bukan Jerman, siapa yang menjadi kandidat kuat juara? Publik dan rumah taruhan global tampaknya lebih berpihak pada juara bertahan Argentina, kekuatan kolektif Prancis, kedalaman skuad Spanyol, dan ambisi besar Portugal di era transisi mereka. Keempat negara tersebut dianggap memiliki stabilitas skuad yang lebih baik dibandingkan Jerman yang masih sering bongkar pasang formasi.

Piala Dunia 2026 sendiri akan mencatatkan sejarah sebagai turnamen pertama yang digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dengan durasi turnamen dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026, faktor kelelahan akibat perjalanan panjang antar kota dan perubahan zona waktu akan menjadi variabel baru yang harus diatasi oleh tim medis dan pelatih fisik Jerman.

Membangun Kembali Identitas Die Mannschaft

Kesimpulannya, Jerman saat ini sedang berada dalam masa transisi identitas. Mereka mencoba melepaskan diri dari bayang-bayang kesuksesan masa lalu untuk menciptakan cerita baru yang lebih relevan dengan kondisi sepak bola modern. Dengan status sebagai ‘kuda hitam’ yang menyamar dalam jubah raksasa, Jerman justru bisa menjadi tim yang paling berbahaya karena mereka bermain tanpa beban status favorit.

Bagi para penggemar setia, melihat Jerman yang lebih rendah hati mungkin terasa tidak biasa. Namun, jika ini adalah cara untuk membawa kembali trofi ke Berlin, maka para pendukung tentu akan dengan senang hati menerima peran baru ini. Kita tunggu saja apakah strategi merendah ini akan berujung pada kejayaan di final yang akan digelar di MetLife Stadium nanti.

Fajar Nugroho

Fajar Nugroho

Penulis olahraga dengan fokus pada sepak bola internasional dan liga top dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *