Jejak Persistensi Netanyahu: Bagaimana Empat Presiden AS Merespons Desakan Serangan Militer ke Iran
InfoNanti — Di balik tirai diplomasi global yang rumit, sebuah rahasia besar mengenai dinamika ketegangan di Timur Tengah akhirnya terkuak ke publik. Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, membeberkan narasi panjang tentang upaya gigih Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam meyakinkan Washington untuk melancarkan agresi militer besar-besaran terhadap Iran.
Dalam sebuah sesi wawancara mendalam di program “The Briefing with Jen Psaki” yang berlangsung pada Jumat (10/4/2026), Kerry mengungkapkan bahwa ambisi Netanyahu untuk melumpuhkan kekuatan Teheran bukanlah isu baru. Sebagai sosok yang menduduki kursi Menlu AS periode 2013-2017, Kerry mengaku menjadi saksi hidup bagaimana lobi-lobi intens dilakukan oleh pemimpin Israel tersebut di koridor kekuasaan Gedung Putih.
Tragedi 13 Mei 1969: Menggali Luka Kelam dan Transformasi Politik Malaysia Pasca-Kerusuhan Rasial
Tembok Penolakan dari Tiga Generasi Kepemimpinan
Menurut penuturan Kerry, keinginan Netanyahu untuk melihat jet tempur Amerika menghujani wilayah Iran selalu membentur tembok kokoh di era kepemimpinan yang berbeda-beda. Netanyahu secara konsisten membawa proposal serangan tersebut ke meja oval, namun ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa tidak semua Presiden AS memiliki visi yang sama dalam merespons ancaman nuklir atau geopolitik Iran.
“Dia sangat menginginkan kami melakukan serangan tersebut,” kenang Kerry. Ia merinci bahwa tokoh-tokoh besar seperti George W. Bush, Barack Obama, hingga Joe Biden telah memberikan jawaban yang sama: penolakan. Ketiga presiden ini dinilai lebih memilih jalur diplomasi atau sanksi ekonomi daripada konfrontasi militer langsung yang berisiko memicu perang regional yang tak terkendali.
Kilas Balik 28 April 2003: Bagaimana iTunes Music Store Mengubah Wajah Industri Musik Selamanya
Namun, dinamika ini berubah drastis ketika tongkat estafet kepemimpinan berpindah. Kerry menegaskan bahwa hanya ada satu nama yang akhirnya memberikan lampu hijau terhadap ambisi militer tersebut. “Satu-satunya presiden yang menyetujui hal ini, tentu saja, adalah Presiden Donald Trump,” imbuhnya.
Strategi Empat Poin Netanyahu: Dari Perubahan Rezim hingga Pemberontakan
Bukan sekadar ajakan tanpa dasar, Netanyahu dilaporkan telah menyusun sebuah blueprint sistematis yang terdiri dari empat poin utama untuk meyakinkan Amerika. Dalam logikanya, serangan militer terhadap Iran bukan hanya tentang menghancurkan infrastruktur, melainkan sebuah katalis untuk perubahan total di kawasan tersebut.
- Eliminasi Kepemimpinan: Menargetkan tokoh-tokoh kunci di pemerintahan Iran.
- Perubahan Rezim: Menciptakan vakum kekuasaan yang memungkinkan tumbangnya sistem pemerintahan saat ini.
- Penghancuran Kekuatan Militer: Melumpuhkan seluruh aset pertahanan Iran secara permanen.
- Memicu Pemberontakan: Menggerakkan gelombang protes internal agar rakyat bangkit melawan otoritas.
Puncak Eskalasi: Operation Epic Fury dan Roaring Lion
Apa yang selama ini menjadi diskusi di balik pintu tertutup akhirnya termanifestasi dalam realitas yang mencekam. Pada 28 Februari lalu, dunia dikejutkan oleh serangan udara gabungan yang menyasar berbagai titik strategis di Teheran. Misi yang dinamai oleh Amerika Serikat sebagai Operation Epic Fury dan oleh Israel sebagai Operation Roaring Lion ini membawa dampak geopolitik yang masif.
Drama Pembebasan Thaksin Shinawatra: Kembalinya Sang Maestro Politik ke Tengah Panggung Thailand
Serangan tersebut dikonfirmasi menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatullah Ali Khamenei, sebuah peristiwa yang menandai titik balik paling krusial dalam sejarah konflik Timur Tengah modern. Saat ini, dunia internasional terus memantau dampak jangka panjang dari kebijakan berani yang akhirnya direalisasikan setelah bertahun-tahun desakan Netanyahu diabaikan oleh para pendahulu Trump.