Drama Monza GTWCE 2026: Aksi Gemilang Sean Gelael dan AF Corse 50 Amankan Posisi Enam Besar

Fajar Nugroho | InfoNanti
02 Jun 2026, 02:51 WIB
Drama Monza GTWCE 2026: Aksi Gemilang Sean Gelael dan AF Corse 50 Amankan Posisi Enam Besar

InfoNanti — Lintasan legendaris Autodromo Nazionale Monza kembali membuktikan reputasinya sebagai ‘The Temple of Speed’ yang tak kenal ampun. Dalam seri kedua GT World Challenge Europe (GTWCE) Endurance Cup 2026 yang berlangsung penuh drama, pembalap kebanggaan Indonesia, Sean Gelael, bersama tim AF Corse 50 berhasil menunjukkan kelasnya. Meski mengawali balapan dari posisi yang kurang menguntungkan, sinergi antara Sean, Lilou Wadoux, dan Arthur Leclerc membuahkan hasil yang patut diapresiasi dengan finis di posisi keenam secara keseluruhan.

Kekacauan di Tikungan Pertama: Ujian Mental Sejak Start

Balapan yang digelar pada Minggu malam WIB tersebut langsung menyajikan ketegangan luar biasa sejak bendera hijau dikibarkan. Monza dikenal memiliki salah satu tikungan pertama (Prima Variante) tersempit di dunia balap, di mana puluhan mobil GT3 harus berebut ruang dalam kecepatan tinggi. Sayangnya, ambisi besar dari para pembalap kelas dunia ini berujung pada insiden masif.

Baca Juga

Dominasi Perbanas dan UBAYA di Campus League Basketball 2026: Era Baru Olahraga Mahasiswa Indonesia Dimulai

Dominasi Perbanas dan UBAYA di Campus League Basketball 2026: Era Baru Olahraga Mahasiswa Indonesia Dimulai

Senggolan antara mobil Getspeed #17 dan rekan setim Sean di Ferrari AF Corse #51 memicu reaksi berantai yang menghancurkan harapan banyak tim. Bahkan, pemegang pole position, HRT Ford #64, harus rela menyudahi balapan lebih awal setelah terlibat dalam tabrakan beruntun tersebut. Dalam situasi kacau yang dipenuhi serpihan karbon dan kepulan asap, insting balap Sean Gelael benar-benar diuji.

Beruntung, Sean yang memulai balapan dari posisi ke-12 berhasil melakukan manuver menghindar yang sangat presisi. Memanfaatkan celah sempit di tengah kerumunan mobil yang melintir, ia tidak hanya selamat dari kecelakaan, tetapi juga berhasil merangsek naik ke posisi 9. Keberhasilan melewati momen kritis ini menjadi kunci utama bagi strategi tim AF Corse untuk sisa balapan yang panjang.

Baca Juga

Optimisme Raul Asencio Sambut Era Baru Real Madrid: Jose Mourinho dan Bernardo Silva Siap Guncang Santiago Bernabeu

Optimisme Raul Asencio Sambut Era Baru Real Madrid: Jose Mourinho dan Bernardo Silva Siap Guncang Santiago Bernabeu

Dominasi Sean Gelael di Lintasan Pro

Setelah periode Safety Car (SC) berakhir untuk membersihkan lintasan, Sean Gelael menunjukkan mengapa dirinya dianggap sebagai salah satu pembalap ketahanan papan atas. Mengendarai Ferrari 296 GT3 Evo, Sean tampil sangat agresif namun tetap tenang. Ia mulai memburu satu demi satu rival di depannya dengan kecepatan yang sangat konsisten.

Pertarungan di kelas Pro berlangsung sangat sengit. Sean terlibat dalam duel jarak dekat yang memukau penonton di tribun Monza. Keunggulan teknis Ferrari 296 GT3 Evo dalam pengereman di tikungan-tikungan tajam Monza dimanfaatkan Sean secara maksimal. Hasilnya luar biasa; dari posisi 9, ia perlahan tapi pasti merayap naik hingga menduduki posisi 3 besar sebelum melakukan pergantian pembalap (pit stop).

Baca Juga

Rekor Sejarah di Skuad Garuda: Matthew Baker Jadi Debutan Termuda, Ivar Jenner Berbagi Memori Emosional

Rekor Sejarah di Skuad Garuda: Matthew Baker Jadi Debutan Termuda, Ivar Jenner Berbagi Memori Emosional

“Kecepatan mobil sangat luar biasa hari ini. Kami tahu start akan sangat berbahaya, jadi fokus saya hanya melewati tikungan pertama tanpa lecet sedikit pun pada mobil. Setelah itu, fokus beralih ke manajemen ban dan menjaga ritme,” ungkap sumber internal tim yang memuji performa pembuka dari Sean.

Lilou Wadoux dan Tekanan Full Course Yellow

Tugas berat kemudian beralih ke tangan Lilou Wadoux. Sebagai pembalap wanita pertama yang dikontrak secara resmi oleh Ferrari Competizioni GT, Wadoux menghadapi tekanan yang tidak ringan. Ia masuk ke lintasan saat balapan mulai diwarnai oleh berbagai interupsi akibat insiden di bagian belakang rombongan.

Munculnya Full Course Yellow (FCY) dan Safety Car yang berulang kali keluar masuk lintasan membuat ban sulit mencapai suhu optimal. Namun, Wadoux menunjukkan kematangan yang luar biasa. Ia mampu mempertahankan posisi keempat di kelas Pro, bersaing ketat dengan mobil-mobil Audi dan Porsche yang dikenal memiliki top speed tinggi di trek lurus Monza.

Baca Juga

Masa Depan Enzo Fernandez di Chelsea Bergantung Tiket Liga Champions, Sinyal Hengkang Menguat?

Masa Depan Enzo Fernandez di Chelsea Bergantung Tiket Liga Champions, Sinyal Hengkang Menguat?

Strategi pit yang diterapkan oleh kru mekanik AF Corse juga berjalan mulus, memastikan bahwa balap ketahanan ini tidak hanya ditentukan oleh kecepatan di lintasan, tetapi juga efisiensi di area pit lane.

Akhir Antiklimaks untuk Arthur Leclerc

Memasuki fase akhir balapan, kemudi Ferrari bernomor lambung 50 tersebut diserahkan kepada Arthur Leclerc. Adik dari pembalap F1 Charles Leclerc ini diharapkan mampu memberikan dorongan terakhir untuk mengamankan podium. Sayangnya, kondisi di lintasan tidak memungkinkan adanya aksi salip-menyalip yang signifikan di menit-menit akhir.

Rentetan insiden kembali terjadi, memaksa pengawas balapan untuk memberlakukan FCY berkali-kali guna mengevakuasi mobil-mobil yang rusak. Alhasil, balapan harus berakhir di bawah kawalan Safety Car. Kondisi ini menutup peluang Arthur untuk menyerang posisi di depannya. Tim AF Corse 50 akhirnya harus puas menyentuh garis finis di posisi keenam.

Meski gagal meraih podium, hasil ini dipandang sangat positif oleh manajemen tim. Mengingat mereka harus memulai dari barisan tengah dan menghadapi kekacauan di awal lomba, finis di posisi enam besar dengan mobil yang tetap mulus tanpa kerusakan teknis adalah sebuah pencapaian yang solid.

Kejutan dari Kelas Silver dan Tatapan Menuju Spa-Francorchamps

Hal menarik lainnya dari seri Monza kali ini adalah kemenangan mengejutkan dari tim luar kelas utama. Tim Tresor Attempto Racing #66 yang turun di kelas Silver secara tak terduga berhasil mengungguli tim-tim di kelas Pro dan Gold. Menggunakan Audi R8 LMS GT3, mereka berhasil menaklukkan tantangan Monza dan finis sebagai juara umum, membuktikan bahwa dalam GT World Challenge, segala kemungkinan bisa terjadi.

Bagi Sean Gelael dan rekan-rekan setimnya, hasil di Monza menjadi modal penting sekaligus evaluasi berharga. Fokus tim kini beralih sepenuhnya ke agenda balap berikutnya yang jauh lebih menantang: 24 Hours of Spa di Belgia pada akhir Juni mendatang. Balapan 24 jam tersebut dikenal sebagai mahkota dari kalender GTWCE, di mana ketahanan fisik, mental, dan mesin akan diuji hingga batas maksimal.

Perjuangan Sean Gelael di kancah internasional terus menjadi inspirasi bagi pecinta otomotif di tanah air. Dengan dukungan penuh dari penggemar di Indonesia, diharapkan Sean dan tim AF Corse mampu meraih hasil yang lebih gemilang di tanah Belgia nanti.

Fajar Nugroho

Fajar Nugroho

Penulis olahraga dengan fokus pada sepak bola internasional dan liga top dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *