Rupiah Terkapar di Angka Rp 17.881: Dampak Pukulan Ganda Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed

Rizky Pratama | InfoNanti
29 Mei 2026, 18:55 WIB
Rupiah Terkapar di Angka Rp 17.881: Dampak Pukulan Ganda Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed

InfoNanti — Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global yang terus menderu, mata uang kebanggaan kita, Rupiah, kembali harus menelan pil pahit. Pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, posisi nilai tukar Garuda terpantau kembali lunglai menghadapi dominasi Dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan yang datang dari berbagai arah, mulai dari eskalasi konflik di Timur Tengah hingga kebijakan moneter ketat dari Negeri Paman Sam, menjadi kombinasi maut yang memaksa Rupiah parkir di zona merah.

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun tim redaksi InfoNanti pada Jumat sore, Rupiah ditutup dengan pelemahan sebesar 35 poin atau setara 0,20 persen. Angka ini membawa nilai tukar kita berada di level Rp 17.881 per dolar AS, sebuah penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya yang masih tertahan di angka Rp 17.846 per dolar AS. Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai potensi ekonomi nasional dalam menghadapi volatilitas yang semakin liar.

Baca Juga

Visi Besar Prabowo Subianto: Mewujudkan Ekonomi Pancasila dan Berdaulat di Atas Kekayaan Alam Sendiri

Visi Besar Prabowo Subianto: Mewujudkan Ekonomi Pancasila dan Berdaulat di Atas Kekayaan Alam Sendiri

Sentimen Minyak Mentah dan Geopolitik yang Fluktuatif

Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang kawakan, memberikan pandangannya kepada InfoNanti mengenai situasi pelik ini. Menurutnya, salah satu biang kerok utama melemahnya Rupiah adalah pergerakan harga minyak dunia yang sulit diprediksi. Sebagai negara yang masih sangat bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak atau ketidakpastian pasokan global selalu memberikan efek domino yang instan terhadap stabilitas mata uang kita.

“Pasar energi global saat ini sedang berada dalam kondisi yang sangat rapuh. Kita melihat bagaimana harga minyak dunia naik-turun dengan sangat cepat dalam beberapa sesi terakhir. Hal ini terjadi karena para pelaku pasar terus bereaksi secara emosional terhadap berita-berita utama yang seringkali saling bertentangan terkait negosiasi gencatan senjata di Timur Tengah,” ujar Ibrahim saat dihubungi pada Jumat (30/5/2026).

Baca Juga

Evolusi Strategi Brand: Mengapa Nilai dan Narasi Kini Lebih Berarti daripada Sekadar Diskon Besar

Evolusi Strategi Brand: Mengapa Nilai dan Narasi Kini Lebih Berarti daripada Sekadar Diskon Besar

Ketegangan antara Washington dan Teheran menjadi poros utama perhatian dunia. Meskipun sempat muncul angin segar mengenai draf kesepakatan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, namun sentimen tersebut bersifat sementara. Isu nuklir Iran dan keamanan kawasan masih menjadi ganjalan besar yang membuat premi risiko tetap tinggi. Kondisi ini membuat para investor cenderung menarik modal mereka dari pasar berkembang dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman atau safe haven.

Ancaman Jalur Maritim Strategis di Selat Hormuz

Tidak hanya soal diplomasi di meja perundingan, kendala fisik di jalur perdagangan internasional juga turut memperburuk keadaan. Selat Hormuz, yang dikenal sebagai urat nadi pengiriman minyak dunia, masih belum pulih sepenuhnya. Meskipun ada harapan bahwa aktivitas pengiriman akan kembali normal seiring dengan proses negosiasi, realitas di lapangan menunjukkan volume lalu lintas kapal masih jauh di bawah level sebelum konflik pecah.

Baca Juga

Harga Emas Terjun Bebas: Rekor Data Ketenagakerjaan AS dan Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Harga Emas Terjun Bebas: Rekor Data Ketenagakerjaan AS dan Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Gangguan pada jalur logistik ini secara otomatis memicu kekhawatiran akan tersendatnya pasokan minyak global. Dampaknya? Harga energi tetap mahal, inflasi global sulit dijinakkan, dan tekanan terhadap mata uang negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia pun semakin menjadi-jadi. Ketidakpastian di jalur maritim ini menambah daftar panjang alasan bagi investor untuk tetap bersikap defensif dalam menempatkan investasi asing mereka.

Dominasi Dolar AS dan Kebijakan ‘Higher for Longer’ The Fed

Beralih ke sisi barat, kekuatan Dolar AS seolah tak tertandingi. Penguatan Greenback ini dipicu oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat terbaru yang menunjukkan angka inflasi serta pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai dengan ekspektasi optimis pasar. Hal ini mempertebal keyakinan bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), belum akan melunakkan kebijakan moneter mereka dalam waktu dekat.

Baca Juga

Waspada Jalur Tikus Dana Gelap, Gibran Rakabuming Bongkar Skandal Trade Misinvoicing di Sektor TIK

Waspada Jalur Tikus Dana Gelap, Gibran Rakabuming Bongkar Skandal Trade Misinvoicing di Sektor TIK

Strategi “higher for longer” atau mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama kini menjadi momok bagi pasar keuangan global. Ketika suku bunga di Amerika Serikat tetap tinggi, imbal hasil (yield) dari obligasi pemerintah AS menjadi jauh lebih menarik di mata investor global. Akibatnya, terjadi arus modal keluar atau capital outflow besar-besaran dari negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju pasar keuangan AS.

“Logikanya sederhana, investor akan selalu mencari tempat yang menawarkan imbal hasil paling kompetitif dengan risiko yang paling minimal. Saat ini, obligasi AS menawarkan kombinasi tersebut. Inilah yang menyebabkan modal asing yang sebelumnya parkir di pasar domestik kita perlahan-lahan terbang kembali ke New York,” tambah Ibrahim dalam penjelasannya.

Data JISDOR dan Tekanan Psikologis Rupiah

Pelemahan ini juga terefleksi dengan jelas dalam kurs referensi yang dirilis oleh Bank Indonesia. Melalui data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), tercatat nilai tukar Rupiah pada hari Jumat ini terperosok ke posisi Rp 17.883 per dolar AS. Padahal, pada hari sebelumnya, nilai referensi tersebut masih berada di kisaran Rp 17.789 per dolar AS.

Pergerakan yang konsisten melemah ini menimbulkan tekanan psikologis tersendiri. Angka Rp 17.900 kini sudah berada di depan mata, dan bayang-bayang level psikologis Rp 18.000 mulai menghantui benak para pelaku usaha. Jika tren ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi yang efektif atau perbaikan sentimen global, maka beban biaya impor, mulai dari bahan baku industri hingga bahan pangan, berpotensi melonjak dan memicu kenaikan inflasi domestik.

Langkah Antisipasi dan Harapan Pasar ke Depan

Menghadapi situasi yang menantang ini, Bank Indonesia diharapkan tetap berada di pasar untuk memastikan volatilitas Rupiah tetap terjaga dalam batas yang wajar. Kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar menjadi sangat krusial demi menjaga kepercayaan investor dan memastikan daya beli masyarakat tidak tergerus oleh kenaikan harga barang-barang impor.

Di sisi lain, para pengamat menyarankan agar pemerintah terus memperkuat fundamental ekonomi melalui diversifikasi ekspor dan penguatan pasar domestik. Ketergantungan terhadap aliran modal jangka pendek (hot money) harus mulai dikurangi dengan cara mendorong lebih banyak investasi langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) yang sifatnya lebih berkelanjutan dan tidak mudah lari saat terjadi gejolak global.

Secara keseluruhan, perjalanan Rupiah di pekan-pekan mendatang tampaknya masih akan diwarnai oleh drama geopolitik di Timur Tengah dan data-data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat. Selama ketidakpastian tersebut masih menyelimuti langit ekonomi dunia, maka Garuda harus bersiap untuk terus mengepakkan sayapnya lebih kuat demi bertahan dari terjangan badai Dolar AS yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *