Antara Reruntuhan dan Harapan: Kisah Pilu Pengungsi Suriah yang Pulang ke Rumah yang Hancur

Siti Rahma | InfoNanti
28 Mei 2026, 08:55 WIB
Antara Reruntuhan dan Harapan: Kisah Pilu Pengungsi Suriah yang Pulang ke Rumah yang Hancur

InfoNanti — Menghirup udara tanah kelahiran setelah bertahun-tahun hidup di negeri orang seharusnya menjadi momen penuh haru dan suka cita. Namun, bagi jutaan warga Suriah, kepulangan bukanlah akhir dari penderitaan, melainkan awal dari babak baru perjuangan hidup di tengah puing-puing peradaban yang telah hancur. Mimpi untuk kembali ke rumah yang hangat sirna seketika saat mereka menapakkan kaki di kampung halaman yang kini lebih menyerupai labirin beton yang retak dan berbahaya.

Salah satu kisah pilu ini datang dari Umm Abdulrahman. Selama bertahun-tahun, ia menghabiskan hari-harinya sebagai pengungsi di Yordania dengan satu harapan besar: kembali ke Suriah. Namun, realita yang ia temui jauh dari bayangan indahnya. Alih-alih rumah yang nyaman, ia justru mendapati sebuah bangunan apartemen yang nyaris runtuh di kawasan Atman, Suriah selatan. Di tempat inilah, ia bersama 12 anggota keluarganya terpaksa bertahan hidup di tengah kondisi yang sangat tidak manusiawi.

Baca Juga

Siasat Sabar Trump di Selat Hormuz: Mengapa AS Memilih Menunda Kesepakatan dengan Iran?

Siasat Sabar Trump di Selat Hormuz: Mengapa AS Memilih Menunda Kesepakatan dengan Iran?

Kepulangan yang Tak Terbayangkan: Hidup di Balik Tembok Retak

Bangunan yang kini menjadi tempat bernaung Umm Abdulrahman bukanlah hunian yang layak disebut rumah. Dinding-dindingnya dipenuhi retakan lebar, besi-besi tulangan yang berkarat mencuat keluar dari beton yang keropos, dan ruangan-ruangannya terbuka lebar tanpa jendela atau pintu yang mampu menahan laju angin malam yang dingin. Tidak ada privasi, apalagi keamanan.

Kepada tim redaksi kami, Umm Abdulrahman mengungkapkan rasa kecewanya yang mendalam. “Saat saya bermimpi untuk pulang, saya tidak pernah membayangkan akan tinggal di tempat seperti ini. Kehidupan di sini terasa jauh lebih sulit daripada saat kami berada di pengungsian. Namun, kami tidak punya pilihan lain,” tuturnya dengan nada lirih. Alasan utama mereka memilih bangunan kerusakan perang tersebut sederhana namun menyedihkan: karena tempat itu gratis.

Baca Juga

Fenomena Toilet Philadelphia: Ketika Kamar Mandi Menjadi Ladang Iklan Brand Global dan Revolusi Strategi Marketing

Fenomena Toilet Philadelphia: Ketika Kamar Mandi Menjadi Ladang Iklan Brand Global dan Revolusi Strategi Marketing

Di tengah keterbatasan ekonomi yang mencekik, membayar sewa rumah adalah kemewahan yang tak terjangkau. Memilih tinggal di bangunan yang terancam roboh adalah risiko yang terpaksa mereka ambil demi memiliki tempat berteduh, meski maut bisa datang kapan saja jika struktur bangunan itu menyerah pada gravitasi.

Statistik di Balik Tragedi: Arus Balik Jutaan Jiwa

Fenomena kembalinya para pengungsi ke wilayah-wilayah hancur di Suriah bukanlah kasus tunggal. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), diperkirakan lebih dari 1,64 juta pengungsi Suriah telah memutuskan untuk kembali dari negara-negara tetangga sejak runtuhnya pemerintahan lama pada Desember 2024. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ribu orang pulang dari Yordania, sementara dua juta lainnya merupakan pengungsi internal yang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain di dalam negeri.

Baca Juga

Babak Baru Aliansi Beijing-Pyongyang: Menelisik 4 Poin Krusial Pertemuan Strategis Kim Jong Un dan Xi Jinping

Babak Baru Aliansi Beijing-Pyongyang: Menelisik 4 Poin Krusial Pertemuan Strategis Kim Jong Un dan Xi Jinping

Arus balik besar-besaran ini sayangnya tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur. Laporan lapangan menunjukkan bahwa hampir separuh wilayah Suriah mengalami kerusakan struktural yang parah akibat konflik yang telah berlangsung selama lebih dari 13 tahun. Banyak kota yang dulunya hidup kini menjadi kota hantu, di mana layanan dasar seperti listrik, air bersih, dan sistem sanitasi hanyalah kenangan masa lalu.

Jurang Ekonomi: Antara Biaya Hidup dan Pendapatan yang Tak Sebanding

Masalah hunian hanyalah puncak gunung es dari krisis yang dialami warga Suriah. Perekonomian negara yang telah luluh lantak membuat proses pemulihan berjalan sangat lambat, bahkan cenderung stagnan. Bank Dunia memberikan estimasi yang mencengangkan mengenai biaya rekonstruksi Suriah, yakni mencapai 216 miliar dolar AS. Angka ini hampir sepuluh kali lipat dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu pada tahun 2024, sebuah kesenjangan yang menunjukkan betapa beratnya beban yang harus dipikul.

Baca Juga

Bayang-Bayang Perpisahan: Eropa Mulai Susun Strategi Pertahanan Tanpa Campur Tangan Amerika Serikat

Bayang-Bayang Perpisahan: Eropa Mulai Susun Strategi Pertahanan Tanpa Campur Tangan Amerika Serikat

Bagi keluarga Umm Abdulrahman, tekanan ekonomi terasa begitu nyata setiap harinya. Untuk menyewa apartemen sederhana yang bisa menampung 13 orang, dibutuhkan biaya sekitar 250 hingga 300 dolar AS per bulan. Sementara itu, putra Umm Abdulrahman, yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, hanya mampu menghasilkan sekitar 200 dolar AS dari berbagai pekerjaan serabutan yang ia jalani. Defisit pendapatan ini membuat mereka tidak memiliki pilihan selain tetap tinggal di bangunan runtuh yang berisiko tinggi.

Bertahan di Bawah Bayang-Bayang Reruntuhan: Kisah Mohammad Marzouq

Kisah serupa juga dialami oleh Mohammad Marzouq Forough, yang tinggal beberapa lantai di atas keluarga Umm Abdulrahman. Berbeda dengan Umm Abdulrahman yang kembali dari luar negeri, Mohammad adalah korban dari kemiskinan ekstrem di dalam negeri yang memaksanya pindah dari wilayah lain di Suriah demi mencari tempat tinggal cuma-cuma.

Bersama istri dan dua anaknya yang masih kecil, Mohammad harus berhadapan dengan bahaya setiap detik. Kabel listrik yang menjuntai tanpa pengaman dan sistem pembuangan limbah yang hancur menjadi pemandangan sehari-hari. “Ketakutan terbesar kami adalah bangunan ini runtuh saat kami tidur. Ketika angin kencang datang, gedung ini terasa bergetar, seolah-olah akan segera roboh menimpa kami semua,” ujar Mohammad kepada kontributor kami.

Ancaman fisik dari struktur bangunan hanyalah satu hal. Ada rasa trauma mendalam yang menghantui setiap keluarga yang tinggal di sana. Mereka hidup dalam ketidakpastian, terjepit di antara keinginan untuk memulai hidup baru dan kenyataan bahwa mereka tinggal di sebuah “bom waktu” yang bisa meledak kapan saja.

Bahaya yang Tak Terlihat: Ancaman Ranjau dan Amunisi Tak Meledak

Selain ancaman bangunan roboh, warga yang kembali ke pemukiman bekas konflik juga menghadapi bahaya mematikan yang tersembunyi di bawah kaki mereka: ranjau darat dan sisa amunisi yang belum meledak. Organisasi kemanusiaan internasional memperkirakan ada ratusan ribu bahan peledak yang masih tertanam di bekas garis depan perang dan di sekitar kawasan permukiman warga.

Data dari Syrian Network for Human Rights mencatat angka yang mengerikan. Sedikitnya 3.799 warga sipil telah kehilangan nyawa akibat ranjau dan amunisi klaster sejak tahun 2011 hingga April 2026. Yang lebih memilukan, sekitar 1.000 di antaranya adalah anak-anak yang tidak tahu apa-apa dan menjadi korban saat mereka mencoba bermain di reruntuhan.

Lingkungan yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk tumbuh justru menjadi medan tempur yang masih menyisakan sisa-sisa kematian. Kurangnya upaya pembersihan ranjau yang sistematis membuat setiap langkah di luar rumah menjadi sebuah pertaruhan nyawa bagi warga sipil.

Masa Depan Suriah: Krisis Kemanusiaan yang Belum Berakhir

PBB melaporkan bahwa saat ini lebih dari 16,7 juta warga Suriah masih sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan yang mendesak. Lebih dari 80 persen keluarga di seluruh penjuru negeri mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan harian mereka. Tingginya inflasi dan hilangnya lapangan pekerjaan membuat kemanusiaan di negara ini berada di titik nadir.

Meski di tengah kepungan debu dan reruntuhan bangunan di Atman, anak-anak masih terlihat berusaha mencari kebahagiaan. Mereka bermain di koridor-koridor sempit yang retak, sementara pakaian-pakaian keluarga mereka digantung di antara pilar-pilar beton yang sudah kehilangan fungsi penyangganya. Pemandangan ini menjadi simbol ketegaran sekaligus ironi yang mendalam.

Bagi Umm Abdulrahman, Mohammad Marzouq, dan jutaan warga Suriah lainnya, kepulangan ke tanah air bukanlah sebuah akhir yang bahagia. Ini adalah perjuangan untuk bertahan hidup di tengah kehancuran yang total. Tanpa dukungan internasional yang masif dan stabilitas ekonomi yang nyata, masa depan mereka akan terus tertahan di balik tembok-tembok retak yang mereka sebut sebagai rumah.

“Kami hidup dalam bahaya yang nyata setiap hari. Jika kami memiliki pilihan lain atau memiliki sedikit uang untuk menyewa tempat yang lebih aman, tidak ada satu pun dari kami yang ingin hidup seperti ini,” pungkas Umm Abdulrahman, menutup percakapan dengan sebuah harapan kecil yang mungkin masih butuh waktu lama untuk terwujud.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *