Lumpuhnya Tulang Punggung Lebanon: Menguak Alasan Israel Menargetkan Sektor Pertanian

Siti Rahma | InfoNanti
26 Mei 2026, 22:52 WIB
Lumpuhnya Tulang Punggung Lebanon: Menguak Alasan Israel Menargetkan Sektor Pertanian

InfoNanti — Di balik gemuruh ledakan dan kepulan asap yang menyelimuti langit Lebanon Selatan, terdapat sebuah tragedi sunyi yang mengancam napas kehidupan jutaan manusia. Wilayah Lebanon Selatan dan Lembah Bekaa, yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan nasional, kini berada di ambang kehancuran total. Serangan demi serangan yang dilancarkan bukan sekadar menyasar target militer, melainkan secara sistematis menghancurkan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat setempat.

Akar Kehidupan yang Terancam: Mengapa Bekaa dan Lebanon Selatan Begitu Vital?

Bagi masyarakat Lebanon, tanah di wilayah Selatan dan Lembah Bekaa bukan hanya sekadar lahan produksi. Wilayah ini mencakup lebih dari 65 persen dari total luas lahan pertanian di seluruh negeri. Di sinilah denyut nadi kehidupan pedesaan berdetak, di mana kebun zaitun yang rimbun, hamparan budi daya tembakau, hingga peternakan unggas menjadi sumber penghidupan utama bagi puluhan ribu keluarga. Pertanian Lebanon adalah warisan turun-temurun yang membentuk identitas kultural dan kemandirian ekonomi mereka.

Baca Juga

Diplomasi Islamabad: Donald Trump Buka Peluang Kunjungi Pakistan Demi Kesepakatan Historis dengan Iran

Diplomasi Islamabad: Donald Trump Buka Peluang Kunjungi Pakistan Demi Kesepakatan Historis dengan Iran

Namun, sejak eskalasi pecah pada Oktober 2023, wajah asri wilayah ini berubah drastis. Laporan dari berbagai lembaga internasional dan jurnalis lapangan mendokumentasikan penghancuran masif terhadap infrastruktur pertanian. Mulai dari sistem irigasi yang sengaja dirusak hingga fasilitas penyimpanan hasil panen yang luluh lantak, semuanya tampak seperti sebuah skenario yang dirancang untuk melumpuhkan keberlangsungan hidup warga sipil di garis depan konflik Timur Tengah.

Taktik Bumi Hangus: Penggunaan Fosfor Putih dan Polusi Tanah Jangka Panjang

Salah satu aspek paling mengerikan dari agresi ini adalah penggunaan amunisi fosfor putih. Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim InfoNanti dari laporan Al Mayadeen, sekitar sepertiga wilayah pertanian di Selatan dan Lembah Bekaa kini tidak dapat diakses. Bukan hanya karena ancaman ledakan, tetapi karena tanahnya telah terkontaminasi oleh fosfor putih dan logam berat yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan kesuburan tanaman.

Baca Juga

Misteri di Landasan Orly: Mengenang 130 Nyawa dalam Tragedi Air France 3 Juni 1962

Misteri di Landasan Orly: Mengenang 130 Nyawa dalam Tragedi Air France 3 Juni 1962

Penggunaan zat kimia ini menciptakan dampak kerusakan yang diperkirakan akan berlangsung selama beberapa dekade ke depan. Tanah yang dulunya subur kini berubah menjadi racun. Dampak lingkungannya sangat katastropik; kebun-kebun zaitun kuno terbakar hingga ke akarnya, sementara ladang tembakau yang siap panen kini hanya menyisakan abu kelabu. Para petani kecil yang menggantungkan hidupnya pada hasil bumi kini hanya bisa menatap lahan mereka dari kejauhan, terhalang oleh garis api dan ancaman serangan udara yang tak kunjung henti.

Statistik Kerusakan: Kehilangan yang Melampaui Material

Kementerian Pertanian Lebanon baru-baru ini merilis data yang mengejutkan terkait skala kerusakan yang terjadi. Diperkirakan sekitar 56.264 hektare lahan pertanian telah rusak parah. Di wilayah Lebanon Selatan saja, sekitar 18.559 hektare lahan produktif atau setara dengan 22,5 persen dari total lahan di wilayah tersebut kini tidak lagi berfungsi. Dampak ini secara langsung memukul para petani kecil yang menguasai hampir 80 persen properti pertanian di wilayah tersebut.

Baca Juga

Waspada! Rekam Wanita Tanpa Izin di Arab Saudi Bisa Didenda Miliaran Rupiah: Catatan Penting untuk Jemaah Haji

Waspada! Rekam Wanita Tanpa Izin di Arab Saudi Bisa Didenda Miliaran Rupiah: Catatan Penting untuk Jemaah Haji

Abdallah Nassereddine, seorang pakar dan mantan penasihat kementerian pertanian Lebanon, memberikan perspektif mendalam mengenai motif di balik serangan ini. Menurutnya, Israel menerapkan kebijakan ‘bumi hangus’ (scorched earth). Walaupun pihak militer seringkali membenarkan serangan tersebut dengan alasan keamanan atau untuk menghilangkan tutupan vegetasi yang digunakan oleh kelompok perlawanan, fakta di lapangan menunjukkan tujuan yang lebih dalam: meruntuhkan fondasi ketahanan sosial dan ekonomi Lebanon.

Menghancurkan Swasembada: Target Tersembunyi di Balik Agresi

Ada empat poin utama yang menjadi target dari penghancuran sistematis sektor pertanian ini:

  1. Menguras sumber pendapatan masyarakat lokal agar mereka kehilangan kemampuan finansial untuk bertahan.
  2. Memaksa penduduk untuk mengungsi secara permanen dan menghalangi niat mereka untuk kembali ke desa asal.
  3. Merusak ekosistem pertanian secara jangka panjang sehingga kapasitas produksi lokal melemah dalam hitungan tahun atau dekade.
  4. Menciptakan kekacauan pada rantai pasok pangan nasional yang memicu ketergantungan pada impor.

Dengan kata lain, serangan ini adalah bentuk perang ekonomi yang bertujuan untuk mengubah tanah yang subur menjadi wilayah yang tidak layak huni. Ketika sebuah komunitas kehilangan kemampuannya untuk memberi makan diri mereka sendiri, maka kedaulatan mereka secara otomatis akan melemah. Inilah yang saat ini tengah dihadapi oleh rakyat Lebanon di tengah krisis ekonomi yang sudah lebih dulu mencekik mereka.

Baca Juga

Iran Pulihkan Akses Internet Internasional: Langkah Berani Presiden Masoud Pezeshkian Akhiri Isolasi Digital 90 Hari

Iran Pulihkan Akses Internet Internasional: Langkah Berani Presiden Masoud Pezeshkian Akhiri Isolasi Digital 90 Hari

Tragedi di Sektor Peternakan dan Akuakultur

Bukan hanya tanaman, nyawa hewan ternak pun tak luput dari kehancuran. Catatan kementerian menunjukkan angka yang menyayat hati: lebih dari 1,8 juta ayam, domba, kambing, dan sapi dilaporkan mati akibat serangan langsung maupun karena kelaparan akibat pabrik pakan yang hancur. Sektor perlebahan juga hancur dengan hilangnya lebih dari 29.000 sarang lebah, serta hilangnya sekitar 2.030 ton ikan dalam sektor akuakultur.

Nassereddine menegaskan bahwa penghancuran fasilitas peternakan dan pabrik pakan ternak adalah strategi untuk menghilangkan swasembada protein lokal. Tanpa adanya ternak yang sehat, masyarakat kehilangan sumber pendapatan harian yang stabil seperti susu, telur, dan daging. Strategi ini menciptakan kondisi di mana pengungsi yang ingin kembali ke rumah mereka akan mendapati bahwa mereka tidak lagi memiliki cara untuk menyambung hidup, sehingga memperpanjang masa pengungsian mereka tanpa batas waktu yang jelas.

Warisan Zaitun yang Menjadi Abu: Kehilangan Identitas Budaya

Salah satu kerugian paling menyedihkan adalah hancurnya lebih dari 50.000 pohon zaitun, banyak di antaranya telah berusia ratusan tahun. Pohon zaitun bagi masyarakat Lebanon adalah simbol keteguhan dan warisan leluhur. Penghancuran pohon-pohon ini bukan hanya berarti kehilangan ekonomi dari produksi minyak zaitun, tetapi juga hilangnya ikatan sejarah antara manusia dengan tanahnya.

Pemulihan pohon buah-buahan seperti zaitun dan sitrus memerlukan waktu bertahun-tahun, bahkan dekade, sebelum bisa kembali produktif secara maksimal. Hal ini menciptakan lubang besar dalam ekonomi ekspor Lebanon. Para pedagang, eksportir, pemilik penggilingan zaitun, hingga pekerja musiman kini kehilangan pekerjaan mereka, menciptakan efek domino yang memperburuk inflasi pangan di pasar lokal.

Kesimpulan: Masa Depan yang Kelabu di Tanah yang Terluka

Agresi sistematis terhadap sektor pertanian Lebanon adalah potret nyata bagaimana peperangan modern tidak hanya menyasar nyawa manusia secara langsung, tetapi juga menghancurkan masa depan mereka melalui perusakan lingkungan dan ekonomi. Lebanon kini harus menghadapi tantangan berat untuk merehabilitasi lahannya yang terkontaminasi fosfor, mengembalikan populasi hewan ternaknya, dan membujuk para petani yang trauma untuk kembali menanam.

Dukungan internasional dan kebijakan pemulihan yang masif sangat dibutuhkan. Namun, selama konflik masih terus berkecamuk dan taktik bumi hangus tetap dijalankan, kedaulatan pangan Lebanon akan terus berada dalam bayang-bayang ancaman yang mengerikan. Dunia internasional harus melihat bahwa apa yang terjadi di Lebanon Selatan bukan sekadar angka statistik peperangan, melainkan pemusnahan sistematis terhadap sumber kehidupan sebuah bangsa.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *