Eskalasi di Kota Tua: Israel Blokade Masjid Al-Aqsa Demi Pawai Bendera dan Perayaan Kontroversial
InfoNanti — Kota Tua Yerusalem kembali diselimuti ketegangan yang menyesakkan pada pertengahan Mei 2026 ini. Atmosfer religi yang biasanya kental dengan lantunan doa, kini berganti dengan deru sepatu laras panjang aparat keamanan dan riuh rendah provokasi. Laporan terbaru yang dihimpun tim redaksi menunjukkan bahwa otoritas keamanan Israel secara sistematis menutup sebagian besar akses bagi warga Muslim Palestina untuk memasuki kompleks suci Masjid Al-Aqsa sejak Kamis pagi, 14 Mei 2026.
Pembatasan ketat ini bukan tanpa alasan, meski alasannya sangat melukai perasaan warga lokal. Langkah drastis ini diambil untuk memfasilitasi ribuan warga Israel ultranasionalis yang bersiap menggelar “Pawai Bendera”. Acara tahunan ini merupakan puncak dari peringatan “Hari Yerusalem”, sebuah perayaan yang bagi warga Israel adalah hari unifikasi, namun bagi warga Palestina merupakan pengingat pedih akan pendudukan wilayah mereka. Dalam situasi yang kian memanas, konflik Israel-Palestina seakan kembali menemukan sumbu ledaknya di jantung kota suci tersebut.
Perkuat Kedaulatan Udara, Israel Resmi Borong Jet Tempur F-35 dan F-15IA Senilai Miliaran Dolar
Fajar yang Mencekam di Pintu-pintu Al-Aqsa
Ketegangan mulai memuncak sesaat setelah kumandang azan Subuh. Penjagaan di setiap gerbang menuju kompleks Al-Aqsa diperketat hingga ke titik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aparat Kepolisian Israel tidak hanya sekadar berjaga, mereka melakukan penyaringan ketat terhadap siapa pun yang mencoba mendekat. Kartu identitas disita, dan sebuah aturan diskriminatif diberlakukan: laki-laki di bawah usia 60 tahun serta perempuan di bawah usia 50 tahun dilarang keras melintasi ambang pintu masjid.
Seorang pegawai Wakaf Islam Yerusalem—lembaga yang secara de jure mengelola situs suci tersebut—mengungkapkan kepada tim InfoNanti bahwa situasi kali ini jauh lebih intimidatif. “Barikade keamanan dan pembatasan sekarang jauh lebih ketat daripada tahun-tahun sebelumnya. Seolah-olah ada upaya terstruktur untuk mengosongkan tempat ini dari pemilik sahnya secara spiritual,” ujarnya dengan nada getir.
Blak-blakan Donald Trump: Hanya Olahraga ‘Satu Menit’ di Tengah Peluncuran Program Kebugaran Nasional
Laporan dari lapangan juga menyebutkan adanya insiden kekerasan fisik. Beberapa jemaah yang mencoba mempertahankan hak mereka untuk beribadah dilaporkan mengalami tindakan represif berupa dorongan hingga pemukulan oleh petugas. Setelah salat Subuh usai, gelombang pengusiran paksa terjadi. Sebagian besar warga Palestina dipaksa keluar dari area kompleks, menyisakan hanya segelintir staf Wakaf yang terjebak dalam keheningan yang dipaksakan di dalam Masjid Al-Aqsa.
Dominasi Ultranasionalis di Wilayah Pendudukan
Setelah kawasan dianggap “steril” dari keberadaan warga Palestina, drama sesungguhnya dimulai. Kelompok-kelompok warga Israel ultranasionalis mulai merangsek masuk ke dalam kompleks dengan pengawalan ketat kepolisian bersenjata lengkap. Sedikitnya 800 orang tercatat telah memasuki area tersebut pada pagi hari saja, dan jumlah ini terus bertambah seiring berjalannya waktu. Di bawah bayang-bayang kubah emas, mereka melakukan berbagai ritual ibadah dan dengan bangga mengibarkan bendera Israel, sebuah pemandangan yang secara eksplisit menantang status quo yang ada.
Drama di Udara: Pesawat PM Spanyol Pedro Sanchez Mendarat Darurat di Turki Saat Menuju Armenia
Kawasan Kota Tua di Yerusalem Timur yang diduduki pun lumpuh total. Otoritas keamanan memerintahkan penutupan paksa seluruh toko milik warga Palestina. Jalan-jalan sempit yang biasanya ramai dengan aktivitas ekonomi warga lokal, kini berubah menjadi jalur pawai bagi mereka yang merayakan pendudukan. Penduduk setempat diperintahkan untuk tetap berada di dalam rumah, seolah-olah menjadi tahanan di tanah kelahiran mereka sendiri demi memberikan ruang bagi perayaan yang sangat politis ini.
Erosi Status Quo dan Campur Tangan Politik
Penting untuk diingat bahwa Masjid Al-Aqsa adalah situs paling suci ketiga dalam Islam. Di sisi lain, umat Yahudi mengenalnya sebagai Temple Mount, tempat berdirinya Kuil Pertama dan Kedua di masa lampau. Berdasarkan kesepakatan internasional yang dikenal sebagai “Status Quo”, kompleks ini ditetapkan sebagai tempat ibadah eksklusif bagi umat Muslim, sementara umat Yahudi hanya diizinkan berkunjung tanpa melakukan ritual ibadah di dalamnya.
Eskalasi Membara di Lebanon: Gencatan Senjata Terancam Runtuh Usai Serangan Udara Israel di Lembah Bekaa
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Israel dinilai terus mengikis aturan sensitif tersebut. Kehadiran pejabat tinggi dalam serbuan hari Kamis ini mempertegas agenda politik di balik aksi tersebut. Anggota parlemen Ariel Kallner dari Partai Likud dan Menteri Yitzhak Wasserlauf dari partai radikal Otzma Yehudit tampak hadir di barisan depan. Pernyataan Wasserlauf bahkan terdengar sangat provokatif: “Orang Yahudi tidak lagi berjalan di Temple Mount seperti pencuri dan tidak lagi perlu bersembunyi,” tegasnya, menyiratkan ambisi untuk mengubah peta kendali atas situs suci tersebut secara permanen.
Simpang Jalan Antara Hari Yerusalem dan Nakba
Tahun 2026 ini membawa beban sejarah yang lebih berat. Peringatan Hari Yerusalem, yang merayakan pendudukan Yerusalem Timur pada Perang Enam Hari 1967, jatuh hampir bersamaan dengan peringatan Hari Nakba pada 15 Mei. Bagi warga Palestina, Hari Nakba adalah momen duka nasional untuk mengenang pengusiran massal lebih dari 750.000 warga mereka saat negara Israel dideklarasikan pada tahun 1948.
Pawai Bendera yang melintasi pemukiman warga Palestina sering kali menjadi panggung bagi perilaku rasis dan Islamofobia. Slogan-slogan kebencian sering terdengar di sela-sela kibaran bendera, yang tak jarang berujung pada perusakan properti milik warga Arab. Pertemuan dua peringatan yang saling bertolak belakang ini—perayaan kemenangan di satu sisi dan ratapan pengungsian di sisi lain—menciptakan bom waktu sosial yang bisa meledak kapan saja.
Kekhawatiran Puncak pada Salat Jumat
Ketegangan ini diprediksi tidak akan mereda dengan cepat. Fokus kekhawatiran kini tertuju pada hari Jumat. Biasanya, otoritas Israel menghentikan kunjungan kelompok Yahudi ke Al-Aqsa pada hari Jumat untuk menghormati ibadah salat Jumat umat Islam. Namun, desakan dari kabinet sayap kanan Israel mulai muncul ke permukaan. Menteri Kehakiman Yariv Levin bersama Menteri Pertahanan Israel Katz dan Menteri Energi Eli Cohen telah mengirim surat resmi kepada komisaris polisi agar tetap mengizinkan kelompok Israel masuk pada hari Jumat.
Langkah ini dipandang oleh banyak pihak sebagai upaya terang-terangan untuk merebut kendali penuh atas situs suci tersebut. Seorang warga Yerusalem yang berbicara kepada InfoNanti menyatakan ketakutannya bahwa ini adalah awal dari pembagian waktu atau ruang di Al-Aqsa, mirip dengan apa yang terjadi pada Masjid Ibrahimi di Hebron. Jika pemaksaan masuk ini terjadi pada saat ribuan Muslim hendak melaksanakan salat Jumat, maka bentrokan besar hampir dipastikan tak terhindarkan.
Suara Kemanusiaan di Tengah Represi
Kritik tajam datang dari Ir Amim, sebuah organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Israel. Mereka memperingatkan bahwa dukungan pemerintah terhadap kelompok-kelompok mesianik yang ingin membangun “Kuil Ketiga” di lokasi masjid adalah tindakan yang sangat berbahaya. Kelompok-kelompok ini tidak lagi bergerak di pinggiran, melainkan telah masuk ke dalam struktur kekuasaan negara.
“Ketika polisi yang seharusnya menjaga ketertiban justru menjadi pelindung bagi gerakan yang secara terbuka ingin menghancurkan situs suci Muslim, maka harapan akan perdamaian semakin menipis,” tulis pernyataan resmi Ir Amim. Kehadiran hak asasi manusia di Yerusalem kini berada di titik nadir, di mana hak beribadah salah satu kelompok ditekan demi ambisi politik dan ideologi kelompok lainnya. Dunia kini menanti, apakah Yerusalem akan mampu melewati pekan ini tanpa pertumpahan darah lebih lanjut, ataukah blokade Al-Aqsa ini akan menjadi babak baru eskalasi yang lebih luas di wilayah tersebut.