Kilau Perak Antam 13 Mei 2026: Harga Naik Saat Emas Tertekan, Simak Analisis Lengkapnya

Rizky Pratama | InfoNanti
13 Mei 2026, 10:52 WIB
Kilau Perak Antam 13 Mei 2026: Harga Naik Saat Emas Tertekan, Simak Analisis Lengkapnya

InfoNanti — Dinamika pasar logam mulia kembali menunjukkan anomali yang menarik perhatian para investor pada perdagangan tengah pekan ini. Di saat emas sedang berjuang mencari pijakan, perak justru menunjukkan tajinya dengan performa yang cukup impresif. Berdasarkan pantauan pasar terbaru, harga perak produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan kenaikan yang konsisten, berlawanan dengan tren harga emas yang cenderung tertekan.

Rincian Harga Perak Antam Terbaru: Kenaikan Tipis Namun Signifikan

Mengacu pada data resmi dari laman Logam Mulia, harga perak Antam pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, dipatok di angka Rp 56.200 per gram. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar Rp 400 dibandingkan posisi pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 55.800 per gram. Kenaikan ini mempertegas posisi perak sebagai instrumen investasi logam mulia alternatif yang patut diperhitungkan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Baca Juga

Prabowo Pangkas Komisi Ojol Jadi 8 Persen: Gebrakan Perpres 27/2026 dan Babak Baru Kesejahteraan Driver

Prabowo Pangkas Komisi Ojol Jadi 8 Persen: Gebrakan Perpres 27/2026 dan Babak Baru Kesejahteraan Driver

Bagi para kolektor dan investor fisik, Antam menyediakan berbagai varian produk perak untuk memenuhi kebutuhan pasar. Untuk perak batangan dengan berat 250 gram, harga saat ini dibanderol sebesar Rp 14.575.000. Sementara itu, untuk ukuran yang lebih besar yaitu 250 gram, harganya mencapai Rp 28.225.000. Selain dalam bentuk batangan, Antam juga tetap menawarkan perak butiran murni dengan kadar 99,95%, yang sering menjadi pilihan bagi sektor industri kerajinan dan manufaktur.

Katalis Global: Mengapa Harga Perak Melambung?

Kenaikan harga domestik ini tidak terlepas dari pergerakan pasar internasional. Di pasar global, harga perak sempat menembus level psikologis USD 87 per ounce pada perdagangan Rabu ini. Meski sempat mengalami fluktuasi tipis sebesar 0,01% ke level USD 86,55 menurut data Trading Economics, performa perak secara keseluruhan tetap berada di level terkuatnya dalam dua bulan terakhir.

Baca Juga

Update Harga BBM Pertamina per 4 Mei 2026: Pertamax Turbo dan Dexlite Melonjak, Ini Daftar Lengkapnya

Update Harga BBM Pertamina per 4 Mei 2026: Pertamax Turbo dan Dexlite Melonjak, Ini Daftar Lengkapnya

Ada alasan fundamental mengapa perak mampu mengungguli logam mulia lainnya saat ini. Berbeda dengan emas yang murni berfungsi sebagai aset aman (safe haven), perak memiliki wajah ganda sebagai aset investasi sekaligus komoditas industri yang krusial. Permintaan industri yang membaik, terutama di sektor teknologi hijau, menjadi mesin utama penggerak harga.

Peran Strategis Perak dalam Revolusi Industri Hijau

Perak dikenal memiliki konduktivitas listrik tertinggi di antara semua logam, menjadikannya komponen yang tidak tergantikan dalam pembuatan panel surya (fotovoltaik) dan komponen elektronik kendaraan listrik (EV). Seiring dengan ambisi global untuk menekan emisi karbon, permintaan terhadap teknologi energi terbarukan meningkat pesat, yang secara otomatis memacu konsumsi perak secara masif.

Baca Juga

Kabar Baik! Pasokan LPG Nasional Kembali Stabil, Cadangan Kini Lampaui 10 Hari

Kabar Baik! Pasokan LPG Nasional Kembali Stabil, Cadangan Kini Lampaui 10 Hari

Analis dari SP Angel dalam catatannya menyebutkan bahwa ekspektasi defisit pasokan perak semakin melebar. Hal ini dipicu oleh peningkatan penjualan kendaraan listrik yang membutuhkan lebih banyak sirkuit perak dibandingkan kendaraan konvensional. Kondisi kelangkaan pasokan yang tidak sebanding dengan lonjakan permintaan fisik inilah yang mendorong harga terus merangkak naik.

Divergensi dengan Harga Emas: Tekanan Inflasi dan Suku Bunga

Kontras dengan perak, harga emas justru mengalami tekanan yang cukup berat. Di pasar spot, emas sempat merosot hingga 1% ke level USD 4.685,99 per ons. Fenomena ini dipicu oleh rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) yang melampaui ekspektasi. Pada April 2026, inflasi AS tercatat mencapai 3,8%, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 3,7%.

Baca Juga

Revolusi AI di Sektor Bisnis: Pangkas Biaya Operasional dan Dongkrak Produktivitas Hingga 82 Persen

Revolusi AI di Sektor Bisnis: Pangkas Biaya Operasional dan Dongkrak Produktivitas Hingga 82 Persen

Angka inflasi yang tetap tinggi ini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, emas adalah lindung nilai terhadap inflasi. Namun di sisi lain, inflasi yang membandel memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama. Suku bunga yang tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas, sehingga memicu aksi jual di pasar global.

Sentimen Geopolitik dan Kenaikan Harga Minyak

Ketegangan di Timur Tengah, khususnya ketidakpastian mengenai kesepakatan damai antara AS dan Iran, turut memberikan bumbu pada pergerakan harga komoditas. Kegagalan diplomasi untuk mengakhiri konflik menyebabkan harga minyak dunia melonjak lebih dari 3%. Kenaikan harga energi ini semakin memperparah risiko inflasi global, atau yang oleh para ahli disebut sebagai potensi stagflasi.

Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak memaksa bank sentral untuk bersikap lebih agresif. Situasi ini menciptakan tekanan bagi emas, namun memberikan ruang bagi perak untuk tetap bertahan berkat dukungan permintaan fisiknya. Investor kini tengah menantikan rilis data Producer Price Index (PPI) AS serta hasil pertemuan tingkat tinggi antara pemimpin AS dan Tiongkok di Beijing untuk menentukan arah pasar selanjutnya.

Langkah Strategis India dalam Pasar Logam Mulia

Dari sisi kebijakan internasional, India sebagai salah satu konsumen logam mulia terbesar di dunia mengambil langkah yang cukup mengejutkan. Pemerintah India memutuskan untuk meningkatkan tarif impor emas dan perak guna melindungi mata uang domestiknya dan mengendalikan defisit perdagangan. Meski sempat ada jeda impor selama satu bulan, bank-bank di India kini dilaporkan telah melanjutkan pengiriman setelah menyetujui pembayaran bea cukai sebesar 3%.

Langkah India ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap perak tetap solid meskipun beban pajak meningkat. Hal ini memberikan sentimen positif tambahan bagi pasar global, memperkuat keyakinan bahwa tren kenaikan harga perak mungkin belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Prospek Investasi: Apakah Sekarang Saat yang Tepat Membeli Perak?

Bagi investor ritel di Indonesia, kenaikan harga perak Antam sebesar Rp 400 hari ini mungkin terlihat kecil, namun secara persentase, perak seringkali menawarkan volatilitas yang memberikan peluang keuntungan lebih besar dibandingkan emas dalam jangka pendek hingga menengah. Joni Teves, ahli strategi logam mulia dari UBS Investment Bank, tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap sektor logam mulia secara umum.

Meskipun ada tekanan jangka pendek akibat kebijakan The Fed, pendorong fundamental seperti permintaan industri dan ketidakpastian geopolitik tetap utuh. Perak diprediksi akan terus mencetak rekor-rekor baru sepanjang tahun 2026, terutama jika masalah gangguan pasokan global tidak segera teratasi. Bagi Anda yang ingin mendiversifikasi portofolio, memantau grafik harga perak secara berkala merupakan langkah bijak untuk menentukan titik masuk (entry point) yang ideal.

Sebagai penutup, pergerakan harga perak hari ini menjadi pengingat bahwa pasar komoditas sangat dipengaruhi oleh jaring keterkaitan antara data ekonomi AS, kebijakan industri hijau, dan stabilitas geopolitik. Tetap waspada dan terus perbarui informasi Anda mengenai perkembangan pasar keuangan global hanya di InfoNanti.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *