Tragedi Gempa Iran 10 April 1972: Saat Kota Ghir Lenyap dalam Sekejap dan 5.000 Nyawa Melayang

Siti Rahma | InfoNanti
10 Apr 2026, 06:35 WIB
Tragedi Gempa Iran 10 April 1972: Saat Kota Ghir Lenyap dalam Sekejap dan 5.000 Nyawa Melayang

InfoNanti — Tanggal 10 April 1972 akan selalu dikenang sebagai salah satu lembaran paling kelam dalam sejarah geologi Timur Tengah. Tepat pada hari itu, sebuah getaran hebat berkekuatan 6,7 magnitudo merobek ketenangan wilayah Iran Selatan, memicu kehancuran massal yang merenggut lebih dari 5.000 nyawa dalam hitungan detik.

Bencana ini bukan sekadar angka dalam statistik, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan yang menghapuskan eksistensi puluhan pemukiman dari peta. Kota Ghir, sebuah kawasan agraris yang menjadi rumah bagi sekitar 7.000 jiwa, dilaporkan rata dengan tanah. Tidak hanya Ghir, setidaknya 60 desa di sekitarnya juga mengalami nasib serupa—hancur total tanpa menyisakan satu pun bangunan yang layak huni.

Skala Kerusakan yang Melampaui Akal Sehat

Dampak dari gempa bumi dahsyat ini terasa sangat luas. Selain meluluhlantakkan Ghir, kota Jahrom juga mengalami kerusakan yang sangat parah. Bahkan, getaran yang dihasilkan mampu mengguncang kota Shiraz yang letaknya terpaut sekitar 160 kilometer dari titik pusat gempa. Skala kehancuran ini membuat otoritas setempat kewalahan dalam menentukan jumlah pasti korban yang tertimbun di bawah puing-puing bangunan.

Baca Juga

Strategi Cerdas Militer Thailand: Gunakan Humor untuk Rekrut Puluhan Ribu Relawan

Strategi Cerdas Militer Thailand: Gunakan Humor untuk Rekrut Puluhan Ribu Relawan

Jenderal Mohammad Fazelli, sosok yang memimpin langsung jalannya operasi penyelamatan kala itu, tak mampu menyembunyikan rasa frustrasinya di tengah reruntuhan. Saat ditanya mengenai estimasi jumlah korban yang masih terjebak, ia hanya bisa memberikan jawaban pasrah. “Hanya Tuhan yang tahu,” ungkapnya dengan nada getir, menggambarkan betapa masifnya tumpukan material yang harus digali oleh tim penyelamat.

Tangisan di Balik Puing Bangunan

Gubernur Jenderal wilayah terdampak, Manucher Pirouz, memberikan gambaran yang menyayat hati setelah meninjau lokasi melalui pantauan udara menggunakan helikopter. Dari ketinggian, ia menyaksikan pemandangan yang tak terbayangkan: sebuah wilayah yang sebelumnya hidup kini berubah menjadi hamparan debu dan puing.

“Tidak ada satu pun rumah yang masih berdiri,” tegas Pirouz. Ia menceritakan bagaimana para penyintas yang selamat berkeliaran di antara reruntuhan dengan tatapan kosong, sesekali berteriak memanggil nama anggota keluarga mereka. Suasana pilu menyelimuti udara, di mana suara tangisan mencari anak, ayah, dan ibu saling bersahutan di tengah puing-puing sisa bencana alam Iran tersebut.

Baca Juga

Diplomasi Kilat Trump: Minta Netanyahu Redam Serangan ke Lebanon Demi Stabilitas Kawasan

Diplomasi Kilat Trump: Minta Netanyahu Redam Serangan ke Lebanon Demi Stabilitas Kawasan

Mengapa Banyak Korban Perempuan dan Anak-Anak?

Ada alasan tragis di balik tingginya angka kematian perempuan dan anak-anak dalam peristiwa ini. Gempa terjadi pada pagi hari, saat para pria dewasa sebagian besar sudah berangkat bekerja di ladang-ladang pertanian. Sebaliknya, para ibu dan anak-anak mereka masih berada di dalam rumah untuk melakukan aktivitas domestik atau sekadar beristirahat.

Ketika guncangan terjadi, bangunan yang umumnya terbuat dari material tradisional tak mampu bertahan dan langsung runtuh menimbun mereka yang ada di dalamnya. Rentetan gempa susulan yang terus terjadi sepanjang hari semakin menambah trauma mendalam bagi warga yang berhasil selamat, memaksa mereka untuk tetap berada di ruang terbuka meskipun cuaca tidak menentu.

Baca Juga

Babak Baru Ketegangan Teluk Thailand: Mengapa Bangkok Mengakhiri Kesepakatan Energi 25 Tahun dengan Kamboja?

Babak Baru Ketegangan Teluk Thailand: Mengapa Bangkok Mengakhiri Kesepakatan Energi 25 Tahun dengan Kamboja?

Respons Darurat dan Catatan Sejarah

Pemerintah Iran segera mengerahkan bantuan logistik menggunakan pesawat udara. Makanan, selimut, dan peralatan medis dijatuhkan ke titik-titik pengungsian darurat di mana para warga mendirikan tenda seadanya. Tenaga medis juga diterbangkan langsung untuk menangani para korban luka yang kian bertambah setiap jamnya.

Data dari Universitas Teheran kemudian mencatat bahwa kekuatan awal gempa tersebut sebenarnya menyentuh angka 7,1 pada skala Richter, menempatkannya sebagai salah satu bencana seismik paling energetik dalam sejarah dunia pada era tersebut. Peristiwa ini terjadi hanya selang empat tahun setelah gempa Khorasan di wilayah utara yang menewaskan 20.000 orang, menegaskan posisi Iran sebagai wilayah dengan aktivitas seismik yang sangat tinggi dan rentan akan tragedi serupa di masa depan.

Baca Juga

Aneh Tapi Nyata, Rumah Sakit di Florida Terpaksa Gugat Pasien yang Menolak Meninggalkan Ruang Rawat

Aneh Tapi Nyata, Rumah Sakit di Florida Terpaksa Gugat Pasien yang Menolak Meninggalkan Ruang Rawat
Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *