Diplomasi Rasa: Bagaimana Kunjungan Keir Starmer Mengubah Restoran Yunnan di Beijing Jadi Fenomena Viral
InfoNanti — Di tengah hiruk-pikuk politik Westminster yang sering kali menguras energi, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mungkin bisa sedikit bernapas lega berkat sebuah fenomena unik yang terjadi ribuan kilometer dari London. Jauh di jantung ibu kota China, Beijing, nama Starmer bukan sekadar tokoh politik, melainkan magnet bagi para pemburu kuliner China yang penasaran dengan selera sang pemimpin Inggris.
Sebuah restoran kelas atas bernama ‘In and Out’ kini menjadi pusat perhatian publik setelah Starmer dan delegasinya memilih tempat ini sebagai lokasi makan siang mereka pada Januari lalu. Kunjungan ini bukanlah kunjungan biasa, melainkan tonggak sejarah karena merupakan kehadiran perdana seorang Perdana Menteri Inggris di Negeri Tirai Bambu sejak tahun 2018. Dampaknya? Restoran tersebut kini hampir selalu penuh dipesan oleh warga lokal maupun wisatawan yang ingin merasakan sensasi makan layaknya seorang tamu negara.
Misteri Makam Kuno India: Rahasia Tembikar Terbalik dari Peradaban 2.500 Tahun Lalu
Magnet ‘Menu Perdana Menteri’ di In and Out
Popularitas instan yang diraih In and Out bukanlah tanpa alasan. Foto-foto Starmer saat menyantap hidangan khas Yunnan tersebar luas di berbagai platform media sosial China, menciptakan gelombang rasa ingin tahu yang masif. Pihak manajemen restoran dengan cerdik menangkap momentum ini dengan merilis sebuah buklet menu khusus bertajuk “Menu Perdana Menteri”.
Menu tersebut mencakup rangkaian hidangan yang dipesan langsung oleh tim Starmer saat itu. Beberapa di antaranya adalah irisan tipis daging sapi yang dibungkus daun mint segar, asparagus panggang dengan jamur porcini yang aromatik, hingga iga babi saus plum yang menggugah selera. Tak ketinggalan, nasi goreng nanas yang autentik serta keju susu kambing goreng renyah—sebuah camilan khas pegunungan Yunnan yang jarang ditemukan di restoran biasa—turut melengkapi daftar tersebut.
IAEA Peringatkan Eskalasi Nuklir Korea Utara: Produksi Hulu Ledak Meningkat Tajam
Keunikan menu ini bahkan terlihat dari desain visualnya. Dalam buklet tersebut, terdapat ilustrasi lucu yang menampilkan penjaga kerajaan Inggris dengan topi bearskin ikonik mereka, namun bagian bulu topi tersebut secara kreatif diganti dengan bentuk jamur, sebuah penghormatan bagi bahan utama masakan Yunnan yang tersohor.
Antara Porcini dan Jejak Jamur Halusinogen Janet Yellen
Menariknya, pilihan kuliner Starmer sering kali dibandingkan dengan tokoh internasional lainnya yang pernah mengunjungi tempat yang sama. Sebagaimana dilaporkan oleh koresponden internasional, Starmer menunjukkan selera yang cenderung ‘aman’ namun tetap elegan. Ia melewatkan hidangan paling kontroversial di restoran tersebut, yakni jamur lurid bolete yang sempat membuat heboh dunia saat dipesan oleh Janet Yellen, Menteri Keuangan Amerika Serikat, pada tahun 2023.
Guncangan di Washington Hilton: Kronologi Mencekam Evakuasi Donald Trump Saat Penembakan di Jamuan Makan Malam Gedung Putih
Jamur lurid bolete dikenal memiliki efek halusinogen jika tidak diolah dengan sempurna, sebuah fakta yang membuat kunjungan Yellen kala itu menjadi pembicaraan global. Alih-alih mengikuti jejak berisiko tersebut, Starmer lebih memilih jamur porcini yang lebih umum namun memiliki kualitas rasa yang mendalam. Keputusan ini, meski sederhana, tetap dianggap sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal China yang sangat menjunjung tinggi tradisi kuliner berbasis hasil hutan.
Sentuhan Yunnan di Tengah Modernitas Beijing
Restoran In and Out, atau yang dalam bahasa Mandarin dikenal sebagai Yi Zuo Yi Wang, memang mengkhususkan diri pada masakan dari Provinsi Yunnan. Terletak di barat daya China, Yunnan adalah wilayah yang berbatasan dengan Laos, Myanmar, dan Vietnam, menjadikannya kuali peleburan budaya dan rasa. Masakan Yunnan dikenal karena penggunaan rempah-rempah aromatik, bunga yang dapat dimakan, dan tentu saja, beragam jenis jamur eksotis yang tumbuh subur di wilayah pegunungannya.
Dampak Tersembunyi Konflik Timur Tengah: Populasi Paus di Afrika Selatan Terancam Akibat Lonjakan Lalu Lintas Kapal Global
Keberhasilan In and Out dalam menarik perhatian Perdana Menteri Inggris telah memperkuat posisinya sebagai representasi diplomasi kuliner di Beijing. Banyak pengunjung kini rela mengantre berjam-jam hanya untuk mencicipi apa yang dimakan oleh sang pemimpin. Su Yajun dan Sun Chen, sepasang pelancong dari Provinsi Hebei, mengaku sengaja datang jauh-jauh setelah melihat video viral di Douyin, aplikasi TikTok versi China.
“Kami melihat berita itu berkali-kali di media sosial. Kami pikir, jika seorang Perdana Menteri Inggris memilih makan di sini, rasanya pasti luar biasa. Kami ingin mencobanya sendiri,” ujar Su dengan antusias di sela-sela waktu makan siangnya yang sibuk.
Soft Power Inggris yang Tak Padam di China
Meski hubungan politik antara London dan Beijing sering kali mengalami pasang surut, terutama di era pasca-Brexit, daya tarik soft power Inggris di mata masyarakat China tampaknya tetap stabil. Hal ini terbukti dari bagaimana publik China merespons kunjungan Starmer dengan sikap yang sangat positif. Budaya Inggris tetap memiliki tempat tersendiri di hati warga lokal.
Di jalanan Beijing, tidak jarang kita menemui pengemudi taksi yang merupakan penggemar berat klub-klub Liga Inggris. Meski mungkin belum pernah menginjakkan kaki di tanah Britania, mereka mampu menjelaskan sejarah kemenangan dan kekalahan klub favorit mereka selama tiga dekade terakhir dengan sangat detail. Selain sepak bola, figur seperti aktris Rosamund Pike juga memiliki basis penggemar yang luar biasa besar di sana.
Bahkan, pendidikan di Inggris tetap menjadi impian bagi banyak keluarga di China. Sun Chen, salah satu pengunjung restoran, menyebutkan keinginannya untuk suatu saat nanti bisa mengunjungi University of Cambridge. Ia berharap atmosfer akademis di sana dapat menginspirasi anaknya untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Ini menunjukkan bahwa di luar retorika politik, hubungan antarmasyarakat kedua negara masih sangat kuat.
Diplomasi Meja Makan: Reset Hubungan yang Halus
Kunjungan Keir Starmer ke China awalnya dirancang sebagai upaya untuk melakukan ‘reset’ atau pengaturan ulang terhadap hubungan diplomatik kedua negara yang sempat mendingin. Di tengah ketegangan geopolitik global, langkah Starmer untuk masuk ke ruang-ruang publik seperti restoran lokal dipandang sebagai langkah cerdik untuk menunjukkan sisi kemanusiaan dan keterbukaan.
Seorang pelayan di In and Out yang melayani meja Starmer memberikan kesaksian bahwa sang PM adalah sosok yang sangat ramah dan mudah didekati. “Para pelanggan selalu bertanya, ‘Apa benar PM Inggris makan di sini? Apa yang dia makan?’ Mereka sangat penasaran dengan aspek personal dari kunjungannya,” tutur staf tersebut. Hal ini membuktikan bahwa diplomasi internasional tidak harus selalu terjadi di balik pintu tertutup dengan setelan jas formal, tetapi bisa juga terjadi di atas meja makan dengan sepiring nasi goreng nanas.
Masa Depan Hubungan Inggris-China
Namun, tantangan sesungguhnya bagi Starmer tetap menanti di tanah airnya sendiri. Di Inggris, upayanya untuk mempererat hubungan dengan Beijing tidak jarang menuai kritik tajam dari berbagai pihak yang merasa Inggris harus tetap menjaga jarak demi kepentingan keamanan nasional. Ada kekhawatiran bahwa niat baik yang dibangun selama perjalanan kuliner ini bisa saja layu jika posisi politik Starmer di dalam negeri melemah atau jika dinamika internasional memaksa Inggris untuk kembali mengambil sikap keras.
Meskipun demikian, fenomena di restoran In and Out memberikan gambaran yang jelas: bahwa makanan memiliki kekuatan unik untuk menjembatani perbedaan budaya yang paling dalam sekalipun. Bagi pemilik restoran dan para pengunjung di Beijing, Keir Starmer mungkin bukan sekadar politisi dari seberang lautan, melainkan ‘duta rasa’ yang telah menempatkan masakan Yunnan dalam peta percakapan global yang lebih luas.
Seiring dengan terus bertambahnya reservasi di In and Out, satu hal yang pasti: jejak selera sang Perdana Menteri akan terus menjadi legenda kecil di Beijing, membuktikan bahwa terkadang, cara terbaik untuk memahami sebuah bangsa adalah melalui hidangan yang disajikan di meja makan mereka.