Prancis dan Inggris Desak Nasib Lebanon Masuk dalam Kesepakatan Strategis AS-Iran
InfoNanti — Eskalasi ketegangan di Timur Tengah kini memasuki babak diplomasi yang krusial. Prancis dan Inggris secara resmi melontarkan desakan kuat agar isu stabilitas di Lebanon menjadi bagian tak terpisahkan dari butir kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran global bahwa Lebanon akan menjadi medan tempur yang terlupakan dalam meja perundingan negara-negara besar.
Prancis Kecam Eskalasi dan Tuntut Konsesi Iran
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, dalam sebuah pernyataan tegas pada Kamis (9/4/2026), menekankan bahwa setiap kesepakatan damai antara Teheran dan Washington harus menjamin penghentian total aksi militer di wilayah Lebanon. Prancis tidak ragu untuk mengecam operasi militer besar-besaran yang diluncurkan Israel ke wilayah tetangganya tersebut, yang dinilai semakin memperkeruh konflik timur tengah.
Bukan Cabai Biasa, Inilah Euphorbia Resinifera yang Punya Level Pedas 16 Miliar Scoville
Dalam wawancaranya dengan France Inter, Barrot memaparkan ekspektasi tinggi terhadap perundingan perdamaian yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan. Prancis menuntut Iran untuk menunjukkan komitmen nyata melalui sejumlah konsesi strategis.
- Menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklir dan sarana pendukungnya.
- Mengakhiri penggunaan rudal dan drone yang mengancam stabilitas negara-negara tetangga.
- Menarik dukungan bagi kelompok-kelompok seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthis.
- Membuka kembali jalur logistik internasional di Selat Hormuz secara penuh.
Inggris Sebut Eskalasi Militer Sebagai Langkah yang Keliru
Nada serupa juga datang dari London. Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyuarakan bahwa inklusi Lebanon dalam kesepakatan AS-Iran adalah harga mati untuk mencapai perdamaian berkelanjutan. Berbicara dalam program Today di BBC Radio 4, Cooper secara eksplisit menyebut bahwa serangan beruntun Israel ke Lebanon adalah sebuah kesalahan besar.
Aneh Tapi Nyata, Rumah Sakit di Florida Terpaksa Gugat Pasien yang Menolak Meninggalkan Ruang Rawat
“Kami mendesak agar permusuhan di Lebanon segera diakhiri. Eskalasi yang kita saksikan kemarin bukan hanya merusak, tetapi juga mengarah ke arah yang sepenuhnya salah. Kami ingin cakupan gencatan senjata diperluas hingga menyentuh bumi Lebanon,” tegas Cooper. Posisi diplomatik Inggris ini diklaim telah disampaikan secara langsung kepada pihak Gedung Putih maupun otoritas Israel.
Operasi ‘Eternal Darkness’ dan Krisis Kemanusiaan
Ketegangan ini memuncak setelah militer Israel (IDF) meluncurkan operasi bersandi “Eternal Darkness” pada Rabu (8/4). Dalam serangan kilat selama 10 menit, sedikitnya 50 jet tempur dikerahkan untuk menjatuhkan 160 bom ke sekitar 100 target yang diklaim sebagai basis strategis Hizbullah. Namun, laporan lapangan menunjukkan realitas yang memilukan; serangan tersebut menghantam kawasan padat penduduk dan merenggut sedikitnya 254 nyawa warga sipil.
Perkuat Kedaulatan di Laut China Selatan, Filipina Resmikan Komando Maritim Khusus di Kepulauan Spratly
Meski desakan Eropa kian kencang, harapan untuk gencatan senjata di Lebanon sempat layu ketika Wakil Presiden AS, JD Vance, memberikan pernyataan di Budapest. Vance mengonfirmasi bahwa saat ini Lebanon tidak termasuk dalam draf kesepakatan dengan Iran. Ia menyebut adanya kesalahpahaman dari pihak Teheran mengenai cakupan wilayah yang disepakati untuk menghentikan serangan.
Dampak Ekonomi dan Diplomasi di Teluk
Isu ini tidak hanya berkaitan dengan kedaulatan wilayah, tetapi juga stabilitas ekonomi global. Penutupan sebagian Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas tekanan AS-Israel sejak Februari lalu telah memicu lonjakan harga bahan bakar dan pupuk dunia. Hal ini berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat global, mulai dari harga pangan hingga suku bunga kredit.
Tragedi dan Diplomasi: Bagaimana Perjanjian Shimonoseki 1895 Mengubah Wajah Asia Timur
Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer kini tengah melakukan lawatan diplomatik ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Misinya jelas: memperkuat aliansi di kawasan Teluk untuk memulihkan kepercayaan pada jalur pelayaran internasional dan mendorong jeda konflik yang lebih luas. Melalui upaya kolektif ini, InfoNanti mencatat bahwa dunia kini tengah menanti apakah tekanan diplomatik Eropa mampu mengubah arah kebijakan AS dan Iran demi menyelamatkan Lebanon dari kehancuran lebih lanjut.