Prediksi Suram Bitcoin 2026: Survei Deutsche Bank Ungkap Keraguan Investor di Tengah Ancaman Komputer Kuantum

Andi Saputra | InfoNanti
21 Apr 2026, 16:51 WIB
Prediksi Suram Bitcoin 2026: Survei Deutsche Bank Ungkap Keraguan Investor di Tengah Ancaman Komputer Kuantum

InfoNanti — Era kejayaan harga Bitcoin (BTC) yang sempat meledak tampaknya kini mulai memudar dari ingatan para pelaku pasar. Di saat indeks S&P 500 berhasil mencetak sejarah baru dengan menembus level 7.000 pada April 2026, Bitcoin justru terlihat kehilangan taringnya. Aset digital ini seolah terjebak dalam fase stagnasi, gagal mengulangi momentum emas yang pernah membawanya ke rekor tertinggi di atas USD 122.000 pada Oktober 2025 silam.

Berdasarkan laporan terbaru yang dihimpun oleh tim redaksi InfoNanti, survei global yang dilakukan oleh Deutsche Bank terhadap 3.400 konsumen di berbagai belahan dunia memberikan gambaran yang cukup kontras. Mayoritas responden menyatakan skeptis bahwa investasi bitcoin akan kembali menguat secara signifikan dalam waktu dekat. Bagi banyak pihak, tahun 2026 bukanlah tahun kebangkitan bagi raja kripto ini.

Baca Juga

Gurita Bisnis Digital: Mengupas Lonjakan Kekayaan Donald Trump Hingga USD 6,5 Miliar Lewat Sektor Kripto

Gurita Bisnis Digital: Mengupas Lonjakan Kekayaan Donald Trump Hingga USD 6,5 Miliar Lewat Sektor Kripto

Sentimen Pesimistis Menyelimuti Pasar Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, keraguan terhadap masa depan Bitcoin terasa sangat kental. Sekitar 19% responden memprediksi harga Bitcoin hanya akan berkutat di kisaran USD 20.000 hingga USD 60.000 hingga akhir tahun 2026. Bahkan, yang lebih mengkhawatirkan, 13% di antaranya percaya bahwa nilai Bitcoin bisa merosot tajam hingga di bawah USD 20.000.

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di posisi USD 75.798,56. Namun, tim analis dari Deutsche Bank mencatat bahwa sangat sedikit investor yang berani bertaruh bahwa harga akan kembali ke level psikologis USD 120.000. Fenomena ini menarik, mengingat pasar saham justru sedang menunjukkan performa yang sangat impresif.

Pergeseran Selera Risiko: Bitcoin vs S&P 500

Mengapa Bitcoin gagal bersinar di saat bursa saham melesat? Jawabannya terletak pada pergeseran selera risiko investor. Saat ini, Bitcoin cenderung berperilaku sebagai aset berisiko tinggi (high-risk) daripada aset aman (safe haven). Di tengah situasi geopolitik yang mulai mereda, investor lebih memilih kembali ke sektor teknologi yang sudah teruji, seperti Nvidia (NVDA), dibandingkan berspekulasi di pasar mata uang kripto.

Baca Juga

Gugatan Balik Bittrex: Menuntut Keadilan dan Pengembalian Denda Rp 415 Miliar di Era Baru Regulasi Kripto

Gugatan Balik Bittrex: Menuntut Keadilan dan Pengembalian Denda Rp 415 Miliar di Era Baru Regulasi Kripto

Meskipun ada kenaikan tipis sekitar 7,7% dalam sebulan terakhir, fondasi kenaikan tersebut dinilai masih sangat rapuh. Bitcoin menghabiskan sebagian besar waktunya di bawah angka USD 70.000, menunjukkan kurangnya tenaga untuk melakukan breakout ke level yang lebih tinggi.

Ancaman Nyata Teknologi Kuantum Google

Selain faktor ekonomi makro, ancaman teknis juga mulai menghantui eksistensi Bitcoin. Makalah penelitian terbaru dari Google Quantum AI menggambarkan potensi ancaman dari komputer kuantum hipotetis dengan 500.000 qubit. Perangkat super canggih ini diklaim mampu memecahkan kriptografi kurva eliptik yang melindungi jaringan blockchain Bitcoin hanya dalam waktu kurang dari sembilan menit.

Meskipun teknologi tersebut belum sepenuhnya terwujud hari ini, temuan ini telah memicu perdebatan serius di kalangan pengembang untuk segera memperbarui sistem keamanan Bitcoin agar tahan terhadap serangan kuantum di masa depan.

Baca Juga

Peringatan Keras Warren Buffett: Mengapa Kripto dan Spekulasi Pasar Lebih Mirip Perjudian Daripada Investasi

Peringatan Keras Warren Buffett: Mengapa Kripto dan Spekulasi Pasar Lebih Mirip Perjudian Daripada Investasi

Geliat Raksasa: Strategi Agresif Michael Saylor

Namun, di tengah awan mendung tersebut, masih ada pihak yang tetap teguh pada pendiriannya. Strategy Inc, perusahaan besutan Michael Saylor, justru melakukan aksi borong besar-besaran. Dalam sepekan terakhir, mereka menggelontorkan dana fantastis sebesar USD 2,54 miliar atau setara Rp 43,51 triliun untuk menambah pundi-pundi Bitcoin mereka.

Pembelian ini didanai melalui skema penjualan saham preferen abadi dan saham biasa. Hingga saat ini, Strategy Inc tercatat memiliki kepemilikan Bitcoin dengan nilai total mencapai USD 61 miliar (sekitar Rp 1.044 triliun). Langkah berani ini menjadi antithesis di tengah pesimisme pasar, menunjukkan bahwa bagi pemain institusi tertentu, aset digital ini masih memiliki nilai jangka panjang yang tak tergantikan.

Baca Juga

Bitcoin Melambung Lewati USD 74.000, Ethereum Pimpin Kebangkitan Pasar Kripto Hari Ini

Bitcoin Melambung Lewati USD 74.000, Ethereum Pimpin Kebangkitan Pasar Kripto Hari Ini

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. InfoNanti menyarankan agar Anda selalu melakukan analisis mendalam sebelum terjun ke dunia trading kripto, mengingat volatilitas harga yang sangat tinggi.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *